Hi MEDAN!

Hai! Ini adalah cerita perjalananku mengunjungi Medan bulan lalu dari tanggal 9-16 Januari 2017.

 

Jadi aku sebelumnya sama sekali belum pernah ke medan. Ini adalah pengalaman kali pertamaku ke sana. Aku pergi ke sana karena kebetulan kantorku mengadakan acara di sana yang mengharuskan aku berada di sana juga. Karena aku suka jalan-jalan dan sangat suka sekali menjelajahi tempat baru dan tempat wisata di suatu kota, aku pun datang ke Medan dengan beberapa list tempat wisata yang sudah sebelumnya aku siapkan. Dengan bermodal ‘om Google‘ aku mencari lokasi-lokasi menarik yang wajib ku kunjungi saat ku berada di sana. Untungnya aku memiliki satu hari full time di mana aku bisa berjalan-jalan di tengah-tengah pekerjaan ku di sana.

Sesampaiku di Medan aku sangat excited dan bersemangat karena akhirnya sampai di Medan, dunia baru yang aku datangi selain Bandung dan Makassar, haha. Awal perjalanan dari bandara menuju pusat kota Medan nampak perkebunan kelapa sawit di sisi dan kanan jalan. Saat perjalanan itu pun di dalam mobil sang supir memutarkan lagu Melayu kesukaan orang Medan. Jadi terasa sekali aku benar-benar sedang di tempat lain selain Jakarta, tempatku beraktivitas sehari-hari.

 

Eksistensi Becak Metropolis di Medan
Sumber: http://bit.ly/2kmaN6I

Dan aku kaget ketika melihat ada ‘becak’ di Medan. Sebutan ‘becak’ di Medan sama saja dengan ‘bentor’ yang ada di Makassar. Kalau ‘becak’ di Jakarta adalah benar-benar becak, yaitu kendaraan yang didorong oleh sepeda dengan penumpang terletak di depan sepeda. Kalau bentor di Makassar adalah Becak Motor, yaitu becak yang didorong dengan motor, bukan sepeda. Namun becak-Medan dengan bentor walaupun sama-sama didorong oleh sebuah motor, ada sedikit perbedaan pada tampilan mereka. Kalau becak-Medan, motor berada di sisi samping dari badan becak sedangkan bentor berada di belakang sisi badan becak. Aku melihat itu unik. Berarti hampir masing-masing kota di Indonesia memiliki becak, becak ala mrk masing-masing. Belum hampir tepatnya si. Aku harus mengecek keberadaan becak di kota lainnya. 😀

 

dsc_0365

Saat aku sampai di pusat kota. Aku dan tim mampir untuk makan di Tip Top. Saat perjalanan menuju ke sana, sekitaran Tip Top aku lihat gaya bangunannya seperti di daerah Kota di Jakarta yang dulunya kebanyakan penduduk keturunan Tiongkok tinggal di sana. Dan saat aku memasuki restoran Tip Top, aku sangat jatuh cinta dengan arsitektur ‘jadul’ interior dari restoran tersebut. Buru-buru aku memotret dan merekam hal-hal unik yang berada di sana. Aku suka hal-hal yang berbau jadul dan vintage :3

Makanannya di Tip Top juga sangat enak menurutku. Nasi gorengnya rasanya pas, tdk terlalu asin. Es krimnya pun juga sangat ringan ketika terasa di mulut, jadi tidak gampang kenyang! Haha!

Setelah itu, esok harinya adalah hari di mana perjalanan wisataku dimulai. Dari list wisataku ada Istana Maimun, Tjong A Fie Mansion,  dan Masjid Raya Medan yang dlm waktu satu hari cukup untuk dijelajahi. Dengan mengandalkan ‘om Google‘ kembali, lebih tepatnya maps, aku memetakan lokasi mana yang aku kunjungi duluan berdasarkan jarak terdekat dari tempatku menginap. Kemudian yang menjadi tujuan pertamaku adalah Istana Maimun. Untungnya di Medan sudah ada ojek-online, yaitu Gojek yg bisa menjadi kendaraanku berwisata di Medan. Kalau saja tidak ada ojek online itu, mungkin aku akan mengandalkan kendaraan umum seperti angkot daripada taksi yang pastinya akan sangat memakan biaya. Kendaraan seperti angkot pun juga akan sangat ribet juga digunakan oleh seorang wisatawan dalam negeri yang baru pertama kali ke Medan dan sama sekali tidak tahu rute angkot di kota Medan. Untungnya pun kota Medan kecil, jadi menggunakan Gojek pun sangat murah, sangat menghemat kantong! Lagi pula, saat mengunjungi kota yang sama sekali belum pernah aku datangi, aku lebih memilih untuk menaiki motor untuk berkeliling. Lebih dekat jaraknya untuk melihat lebih dekat sekitar, lebih bisa mengeksplor lebih jauh dibanding di dalam mobil yg dihalangi oleh atap besi dan kaca jendela.

Saat aku sampai di Istana Maimun, excited sekali rasanya untuk segera mengeksplor isi dari istana tersebut. Bentuknya dari luar mirip masjid pada umumnya. Dengan kamera hpku yang juga ku hidupkan untuk merekam perjalananku di sana ke dalam bentuk video, aku pun mulai memasuki istana tersebut. Sebelum memasuki istana, seluruh pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki mereka. Hal tersebut tidak biasa dilakukan oleh tempat wisata lainnya. Mungkin karena istana ini awal hingga rajanya yang sekarang pemiliknya adalah pemeluk Islam yang kebiasaannya jika memasuki masjid atau rumah, melepas alas kaki. Tapi aku belum tau pasti.

 

dsc_0389

Ketika saat menaiki tangga masuk, aku disambut dengan alunan musik Melayu live yang merdu dan riang. Kaget sekaligus “wah, di sebuah istana yang menjadi museum ini ada live musik khas kerjaannya.” Sangat menarik dan belum pernah aku temui di museum lainnya. Orang-orang yang mendendangkan alunan lagu-lagu Melayu tersebut juga menggunakan baju adat khas Melayu. Alat-alat musik yang dimainkan pun juga alat musik tradisional yg memang khas Melayu. Benar-benar terasa sekali kebudayaannya. Di depan live musik tersebut juga tersedia tempat duduk agar pengunjung dapat menikmati irama lagu khas Melayu yang dimainkan dengan lebih rileks dan nyaman.

Setelah merasa cukup menikmati musik yang didendangkan, aku tertarik untuk masuk ke dalam istana tersebut. Apalagi ditambah banyak org yang berlalu lalang dengan mengenakan baju adat khas Melayu. Aku pikir “hari ini orang-orang penting istana lagi pada datang ya ke sini. Atau mereka adalah orang-orang istana?” Akhirnya aku pun masuk ke dalam dan melihat kemegahan interior suatu istana, dari atapnya yang penuh dilukisi dengan gambaran bunga di dalam segi enam dengan corak-corak menarik. Terdapat juga beberapa figura besar yang menunjukan potret dari orang-orang yang pernah berpengaruh dalam kerajaan tersebut. Dan akhirnya aku mengetahui darimana sumber baju-baju daerah yang dipakai hampir semua pengunjung di sana, yaitu adalah tempat penjual souvenir yang juga menyewakan baju daerah yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto, haha! Aku pun juga ikut mencoba menyewa baju daerah tersebut setelah aku berkeliling museum. Dan mencetak foto juga di sana! Menyewa baju daerah yang paling murah harganya 10k dan mencetak fotonya per lembar juga 10k. Senangnya harganya terjangkau, hihi.

Setelah puas melihat-lihat dan sedikit berfoto di sana, aku kemudian pergi mengunjungi Tjong A Fie Mansion. Biaya untuk masuk ke sana termasuk lumayan mahal sebesar 35k. Tapi hal itu sepadan dengan pengalaman yang ku dapatkan selama ku berkeliling di dalam sana. Setiap pengunjung/kelompok akan disiapkan tour guide yang akan membimbing pengunjung untuk dapat lebih mengenal tokoh di balik Tjong A Fie Mansion, yaitu ialah Tjong A Fie, seorang saudagar Tiongkok yang hijrah ke negeri Indonesia, tepatnya ke Medan. Keberadaannya di Medan berpengaruh besar dalam kemajuan kota tersebut yang akhirnya ia pun dikenal sebagai tokoh berjasa di sana. Dan mansion ini adalah tempat tinggalnya dahulu yg dijadikan museum untuk mengenang dirinya dan sejarahnya. Cucu dan cicitnya yang mengurus rumah tersebut kini.

 

This slideshow requires JavaScript.

Rumah tersebut benar-benar megah. Ada empat gaya perpaduan yang membangun bangunan tersebut, mulai dari gaya Eropa, Cina, Amerika, dan Indonesia. Perpaduan tersebut membuat rumah tersebut sangat cantik. Aku sangat senang sekali dengan halaman tengah rumah tersebut yg terbuka, sejuk.. sekali rasanya. Kalau kamu berkunjung ke Medan wajib ke sana bagi para pecinta sejarah dan arsitektur! 😉

 

dsc_0041

Setelah puas menyerap berbagai ilmu dan cerita, akhirnya aku pergi ke lokasi terakhir, yaitu Masjid Raya Medan. Di sana ternyata diwajibkan setiap wanitanya utk memakai hijab jika hendak masuk ke masjid tersebut. Jadi saat aku masuk melalui gerbang masjid, seorang wanita memberhentikan langkahku dan memberikanku selendang untuk aku kenakan sebagai hijab. Di sanaku sempatkan untuk salat dan beristirahat sejenak. Bersyukur dengan pengalaman menakjubkan yang kudapati hari itu.

Setelah selesai, akhirnya tujuan paling akhirku adalah ke tempat acara yang akan kantorku selenggarakan di Centre Poin untuk bertemu dengan beberapa orang.

Kantorku adalah sebuah kantor event organizer yang tiap tahun menyelenggarakan 5-7 bazaar setiap tahunnya ke kota-kota besar di Indonesia yang memiliki potensi untuk diadakan bazaar dengan tema tertentu yang menarik seperti di Jakarta. Dan pada setiap kami mengunjungi sebuah kota, kami merekrut beberapa kru untuk membantu acara kami terselenggara dengan baik. Begitu juga saat kami di Medan. Aku bertemu banyaak sekali teman baru. Berbagi pengalaman dan ilmu, bercanda tawa bersama. Namun aku awalnya agak minder dan asing dengan beberapa orang keturunan Tiongkok yang berbicara dengan bahasa Hokian (Hokkien), bahasa ‘Tiongkok’ – nya Medan, haha. Begitu juga dengan beberapa antar kru yang berbicara dengan bahasa tersebut. Aku bingung, hahaha.

Tapi secara keseluruhan Medan sangat menyenangkan. Berkunjung ke tempat wisata yang menarik kaya akan sejarah dan peninggalan terdahulunya dan juga bertemu dengan orang-orang baru yang akhirnya menjadi kawan. Sungguh pengalaman yg asyik!

Sampai bertemu lagi Medan! Tchüss! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s