Hari Peringatan Tahun Baru Saka

 

Kalimat IG Post3
Backgorund photo from wego.co.id

Nyepi adalah sesuatu yang asing bagiku. Aku hanya sering dengar kata-kata itu lewat rentetan libur nasional negaraku. Namun tidak pernah aku paham apa itu Nyepi.

Beberapa hari lalu di layar timeline Line-ku, kulihat ada sebuah postingan yang di-like oleh temanku. Isinya mengenai Nyepi. Begini isinya..

 

Nyepi Esok Hari

Esok hari, waktu akan berjalan seperti biasa. Kami akan terjaga saat subuh karena gema adzan dari masjid kampung yang tak jauh dari rumah. Kami akan bangkit dari tempat tidur karena susulan adzan lain tak jauh di ujung lainnya. Adzan akan tetap sahut menyahut, sebagian merdu, sebagian lagi dengan lantunan yang datar berusaha mengumpulkan energi positif. Esok adalah hari biasa saja di sekitar rumah kami. Kehidupan akan berjalan normal.

Di rumah, kami bertiga akan berusaha menjadikan hari biasa itu istimewa dengan cara menyepi. Nyepi berarti tidak menyalakan api (amati geni), terutama api di dalam diri yang berupa ego dan kemarahan. Nyepi berarti menjinakkan semua itu. Maka lantunan suara adzan di pagi buta akan terdengar lirih laksana kidung-kidung suci yang mendamaikan. Nyepi berarti tidak bepergian (amati lelungan) maka imajinasipun akan sejenak kami selimuti agar dia tidak lelah berjalan ke tempat-tempat yang jauh. Hasrat dan imajinasi akan kami istirahatkan untuk merawat dirinya sendiri yang nampaknya lelah berkelana setahun lamanya.

Nyepi berarti tidak bekerja (amati karya) karena hanya saat tubuh diam maka kontemplasi berjalan dengan alami. Otot dan otak akan kami istirahatkan dan membiarkannya berbicara pada dirinya sendiri untuk mengenal kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Raga akan kami beri ruang untuk berdialog dengan ketiadaan gerak sehingga saling memahami dan terutama memaafkan kekhilafan yang pasti tak terhitung jumlahnya. Nyepi berarti tidak menikmati kesenangan (amati lelanguan) yang berlebihan maka akan kami arahkan hati untuk bisa tersenyum dan bergembira hanya dengan cara diam. Maka godaan untuk menikmati hiruk pikuk sosial media yang mengundang tawa akan kami biarkan untuk dinikmati oleh para sahabat lain yang tidak merayakan Nyepi. Senyum dan kepuasan akan kami hadirkan dalam diam di tengah ketiadaan drama dari luar jendela. Karena demikianlah Nyepi, menjauhkan diri dari kesenangan berlebihan demi paripurnanya kontemplasi saat berjalan ke dalam diri.

Di siang hari, ketika doa-doa kami panjatkan di dalam hati dan tanpa kepul asap dupa, adzan tentu akan kembali menemani. Khusu’ silasana di depan Padmasana mungkin akan dilatari deru pesawat terbang yang membelah angkasa Jogja, atau deru mobil dan motor yang memindahkan raga-raga yang bergegas berjingkat menunaikan amanat. Semua itu tak akan mengganggu kami, itu pasti. Jikapun ada, satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan yang kami biarkan terganggu. Seperti nasihat para bijak cendikia, suara dan kata-kata sesungguhnya tak melukai, kecuali jika kami mengizinkannya. Dan itu tak akan terjadi di hari Nyepi karena Nyepi adalah tentang perenungan diri, bukan tentang tuntutan kepada orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Selamat menikmati sepi dalam keramaian dunia. Jika pernah kita berharap akan nasihat yang menggerakkan kita menuju kebajikan, saatnya sepi berkhotbah tanpa kata-kata. Saatnya kebijaksanaan itu hadir dari bisikan lirih angin senja atau cengkerama daun-daun kamboja yang berkelar dengan tikaman matahari di sore hari. Selamat menyambut Nyepi.

I Made Andi Arsana
Warga Jogja, Pembina KMHD UGM

 

Isi postingan di atas adalah mengenai seorang keturunan Bali yang tinggal menjadi warga daerah Jogjakarta. Kalau di Bali, perayaan Nyepi benar-benar sunyi dan tidak ada aktivitas sama sekali selama 1 hari. Namun bagaimana bila orang Bali tinggal di tempat lain yang tidak merayakan perayaan Nyepi sekhidmat di Bali?

Tapi dari postingan di atas aku langsung mengerti apa makna dari Nyepi, makna dari berdiam diri Nyepi. Dulu ku kira hanya, ya.. sekedar tidak melakukan aktivitas apa pun seharian itu. Ternyata maknanya lebih dari itu dan mendalam. Nyepi di atas juga menunjukkan ku bagaimana suatu minoritas bertahan di suatu masyarakat, bagaimana berbeda namun tetap saling berdampingan.

 

Menurutku, terkadang saat seseorang fokus pada sesuatu, hal lainnya jadi tak terpikirkan. Aku sendiri pun mengakui bahwa aku pun begitu. Namun pentingnya orang lain dan lingkungan sekitar dalam kehidupan kita adalah sebagai pengingat akan hal penting yang sebenarnya juga penting dalam hidup kita, namun terlupakan. Begitu pun dengan perayaan Nyepi yang diadakan satu kali dalam setahun. Setiap tahun perayaan ini akan selalu hadir dan dirayakan oleh semua masyarakatnya. Perayaan ini membantu kita rehat sejenak dari hiruk pikuk duniawi dengan ketenangan, kedamaian, dan berserah diri pada Yang Kuasa.

 

And here’s my work for respect and cherish this celebration 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s