Collapse

Adventures

Senangnya melihat Gong Yoo Ahjussi!! KYAA! 😆😄😍

 

Pagi ini adalah momen pertama kalinya aku mengalami kejadian lunglai karena kelelahan sehabis berolahraga. Sepertinya hampir pingsan.

Kemarin malam tidak makan dan pagi ini hanya meminum segelas air putih langsung pergi untuk berolahraga karena kemarinnya tidak banyak melakukan aktivitas dan tidur 😦 Awalnya nggak kenapa-kenapa saat aku melakukan aktivitas olahragaku. Namun saat aku berjalan menuju parkiran motor untuk pulang, di situ aku merasa sedikit ngilu badannya dan tidak kuat untuk berdiri. Aku bergegas mencari tempat di pinggiran untuk duduk dan menyandarkan diri ke tiang. Ini sepertinya karena aku tidak makan jadi seperti ini. Kemudian aku bangkit lagi, bergegas ke arah motorku karena ku pikir aku harus segera pulang. Setelah berjalan beberapa meter aku pun kembali goyah dan duduk di pinggiran. Badanku terasa tidak enak sekali dan aku merasa aku sakit. Aku pun sudah gelisah sekali dan lemas sekali di pinggir jalan namun tak ada satu pun orang yang lewat mencoba bertanya ‘Ada apa? Ada yang bisa dibantu?’ Saat itu berharap ada seseorang yang menolongku. Aku merasa sangat tidak berdaya dan langsung terpikir untuk mengadu kepada seseorang yang entah mengapa langsung dia yang ada dalam benakku.

Yak, tidak ada yang menolong dan aku harus berusaha sendiri untuk mencari pertolongan. Aku tidak bisa pulang sekarang karena tidak cukup kuat dan harus segera mencari orang yang bisa membantuku membelikan air putih dan roti. Aku pun kembali ke gerbang mall tempatku berolahraga karena di sana ada satpam yang pasti bisa menolongku dan jaraknya juga tidak terlalu jauh. Berusaha tegap berjalan namun sangat sangat.. lunglai dan kakiku tidak kuat berdiri. Pandanganku juga mulai kabur. Aku berjokok di tengah jalan untuk mengumpulkan energi kemudian aku berjalan lagi sampai akhirnya aku meminta bantuan pada pak satpam.

Aku langsung duduk di lantai dan bersenderan dengan mengaduh kesakitan. Akhirnya si pak satpam memanggil rekannya terlebih dahulu untuk berganti berjaga, sementara ia membelikan aku minuman dan roti. Sambil menunggu aku mengeluarkan baju cadangan dari tas untuk menutup wajahku. Aku mengaduh namun sambil menguap juga. ‘Haha!’ Aku tertawa dalam hati karena di saat kesakitan seperti ini aku masih saja sempat untuk menguap. Kakiku juga kesemutan jadi ku lepaslah sepatuku agar badanku lebih rileks.

Akhirnya banyak satpam yang berkumpul melihat keadaanku. Satu satpam menyarankanku untuk bangun dan beristirahat di pos basecamp mereka. Aku mencoba kuat untuk bangun dan mengikuti arah mereka pergi. Dalam masih keadaan lunglai aku berjalan sendiri namun ternyata tidak kuat dan aku berusaha menggapai satpam yang ada di depanku untuk mencari pegangan. Akhirnya aku dipapah, namun setelah berjalan beberapa meter aku kembali tidak kuat dan akhirnya berjongkok di tengah jalan.

Minuman dan rotiku akhirnya datang! Mereka menyarankan aku untuk bangun kembali, berpindah ke tempat yang adem dan tidak di tengah jalan. Aku mencoba berjalan kembali. Dan akhirnya aku duduk tergeletak di rumput dan menyeruput teh manis hangat yang diberikan padaku. Rasanya nikmat.. sekali. Aku juga diberikan roti tapi pada awalnya aku merasa ogah-ogahan untuk memakannya karena tidak selera untuk makan. Namun akhirnya aku memakannya juga sedikit demi sedikit.

Kemudian datanglah lagi sebuah kursi roda yang memang dari awal diniatkan oleh bapak-bapak satpam digunakan untuk membawaku ke basecamp mereka. Aku pun duduk di sana dan dibawa ke basecamp. Ini pertama kalinya aku menggunakan kursi roda!

Merasa agak kikuk dengan bapak-bapak satpam karena sudah dibuat repot olehku. Apalagi saat aku didorong dengan kursi roda. Dan pandanganku sudah tidak kabur lagi. Terima kasih telah menolongku!

Ayahku pun akhirnya datang dan kami makan bakso setelahnya.

 

Ini adalah pengalaman yang unik buatku karena sama sekali aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan jadinya tahu bagaimana rasanya orang lemas kalau mau pingsan. Setidak berdaya itu dan semua badan lemas, lunglai.

Jadi.. Tidak boleh telat makan ATAU PUN tidak makan. Makan harus 3x sehari dan bergizi, yak!!!

Advertisements

Extraordinary Snack!

Adventures, All about Indonesia

YEAAAAAHHHHHH!!!

Tonight I just made a song. It’s called ‘The Lonely is Sock’. Hahaha!

 

Never mind. Let’s continue to the point of what I wanna tell you here. Come! 😀

 

So last Sat afternoon, me accompanied two beautiful lady to go to Tn.Abang to buy a new daily sandals. It’s near to the evening actually so we were been in hurry and hoping the seller hadn’t yet closed their counter.

And thank God we were still got the new good one for us!

Our journey was not just end right there, but we continued to buy a snack! But actually it wasn’t just a snack, but our dinner. Extraordinary dinner! 

DSC_1039

 

Yeah, extraordinary. Can you imagine? Nasi uduk sprinkled with fried onions and fried traditional chicken. You could eat those also with sambal kacang, fried shrimp as sate, pete and was accompanied by es jeruk. Uh! So delicious! Nikmat!

That was the first time I ate there and I’m really happy could taste those delightful food.

After the long walking, hunt for sandals, es jeruk is the perfect cure for your tiredness of the day! Hahaha.

Done fulfilled your stomach, it’s time for relaxation. Let what things that went in through your mouth go down, down and down.

DSC_1043While my body was processing that, I loved watching the street right beside my table. Our warung makan is located in narrow street that quiet tightly enough for two side of cars go by. The dim light of the vehicles and the wind blowed softly.. really peaceful. I like that.

 

Unfortunately, the time had come for us to go home. But it was ended also with cute traditional ending. Guess what? We boarded a bajaj to take us to the train station. How lovely!

But the blue is more softer than the orange ya.. for the tremble 😂

 

 

P.s.

Warung makan: Nasi Uduk Ayam Goreng Babe H. Saman, Kebun Kacang

DSC_1047

Hi MEDAN!

Adventures, All about Indonesia, Uncategorized

Hai! Ini adalah cerita perjalananku mengunjungi Medan bulan lalu dari tanggal 9-16 Januari 2017.

 

Jadi aku sebelumnya sama sekali belum pernah ke medan. Ini adalah pengalaman kali pertamaku ke sana. Aku pergi ke sana karena kebetulan kantorku mengadakan acara di sana yang mengharuskan aku berada di sana juga. Karena aku suka jalan-jalan dan sangat suka sekali menjelajahi tempat baru dan tempat wisata di suatu kota, aku pun datang ke Medan dengan beberapa list tempat wisata yang sudah sebelumnya aku siapkan. Dengan bermodal ‘om Google‘ aku mencari lokasi-lokasi menarik yang wajib ku kunjungi saat ku berada di sana. Untungnya aku memiliki satu hari full time di mana aku bisa berjalan-jalan di tengah-tengah pekerjaan ku di sana.

Sesampaiku di Medan aku sangat excited dan bersemangat karena akhirnya sampai di Medan, dunia baru yang aku datangi selain Bandung dan Makassar, haha. Awal perjalanan dari bandara menuju pusat kota Medan nampak perkebunan kelapa sawit di sisi dan kanan jalan. Saat perjalanan itu pun di dalam mobil sang supir memutarkan lagu Melayu kesukaan orang Medan. Jadi terasa sekali aku benar-benar sedang di tempat lain selain Jakarta, tempatku beraktivitas sehari-hari.

 

Eksistensi Becak Metropolis di Medan

Sumber: http://bit.ly/2kmaN6I

Dan aku kaget ketika melihat ada ‘becak’ di Medan. Sebutan ‘becak’ di Medan sama saja dengan ‘bentor’ yang ada di Makassar. Kalau ‘becak’ di Jakarta adalah benar-benar becak, yaitu kendaraan yang didorong oleh sepeda dengan penumpang terletak di depan sepeda. Kalau bentor di Makassar adalah Becak Motor, yaitu becak yang didorong dengan motor, bukan sepeda. Namun becak-Medan dengan bentor walaupun sama-sama didorong oleh sebuah motor, ada sedikit perbedaan pada tampilan mereka. Kalau becak-Medan, motor berada di sisi samping dari badan becak sedangkan bentor berada di belakang sisi badan becak. Aku melihat itu unik. Berarti hampir masing-masing kota di Indonesia memiliki becak, becak ala mrk masing-masing. Belum hampir tepatnya si. Aku harus mengecek keberadaan becak di kota lainnya. 😀

 

dsc_0365

Saat aku sampai di pusat kota. Aku dan tim mampir untuk makan di Tip Top. Saat perjalanan menuju ke sana, sekitaran Tip Top aku lihat gaya bangunannya seperti di daerah Kota di Jakarta yang dulunya kebanyakan penduduk keturunan Tiongkok tinggal di sana. Dan saat aku memasuki restoran Tip Top, aku sangat jatuh cinta dengan arsitektur ‘jadul’ interior dari restoran tersebut. Buru-buru aku memotret dan merekam hal-hal unik yang berada di sana. Aku suka hal-hal yang berbau jadul dan vintage :3

Makanannya di Tip Top juga sangat enak menurutku. Nasi gorengnya rasanya pas, tdk terlalu asin. Es krimnya pun juga sangat ringan ketika terasa di mulut, jadi tidak gampang kenyang! Haha!

Setelah itu, esok harinya adalah hari di mana perjalanan wisataku dimulai. Dari list wisataku ada Istana Maimun, Tjong A Fie Mansion,  dan Masjid Raya Medan yang dlm waktu satu hari cukup untuk dijelajahi. Dengan mengandalkan ‘om Google‘ kembali, lebih tepatnya maps, aku memetakan lokasi mana yang aku kunjungi duluan berdasarkan jarak terdekat dari tempatku menginap. Kemudian yang menjadi tujuan pertamaku adalah Istana Maimun. Untungnya di Medan sudah ada ojek-online, yaitu Gojek yg bisa menjadi kendaraanku berwisata di Medan. Kalau saja tidak ada ojek online itu, mungkin aku akan mengandalkan kendaraan umum seperti angkot daripada taksi yang pastinya akan sangat memakan biaya. Kendaraan seperti angkot pun juga akan sangat ribet juga digunakan oleh seorang wisatawan dalam negeri yang baru pertama kali ke Medan dan sama sekali tidak tahu rute angkot di kota Medan. Untungnya pun kota Medan kecil, jadi menggunakan Gojek pun sangat murah, sangat menghemat kantong! Lagi pula, saat mengunjungi kota yang sama sekali belum pernah aku datangi, aku lebih memilih untuk menaiki motor untuk berkeliling. Lebih dekat jaraknya untuk melihat lebih dekat sekitar, lebih bisa mengeksplor lebih jauh dibanding di dalam mobil yg dihalangi oleh atap besi dan kaca jendela.

Saat aku sampai di Istana Maimun, excited sekali rasanya untuk segera mengeksplor isi dari istana tersebut. Bentuknya dari luar mirip masjid pada umumnya. Dengan kamera hpku yang juga ku hidupkan untuk merekam perjalananku di sana ke dalam bentuk video, aku pun mulai memasuki istana tersebut. Sebelum memasuki istana, seluruh pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki mereka. Hal tersebut tidak biasa dilakukan oleh tempat wisata lainnya. Mungkin karena istana ini awal hingga rajanya yang sekarang pemiliknya adalah pemeluk Islam yang kebiasaannya jika memasuki masjid atau rumah, melepas alas kaki. Tapi aku belum tau pasti.

 

dsc_0389

Ketika saat menaiki tangga masuk, aku disambut dengan alunan musik Melayu live yang merdu dan riang. Kaget sekaligus “wah, di sebuah istana yang menjadi museum ini ada live musik khas kerjaannya.” Sangat menarik dan belum pernah aku temui di museum lainnya. Orang-orang yang mendendangkan alunan lagu-lagu Melayu tersebut juga menggunakan baju adat khas Melayu. Alat-alat musik yang dimainkan pun juga alat musik tradisional yg memang khas Melayu. Benar-benar terasa sekali kebudayaannya. Di depan live musik tersebut juga tersedia tempat duduk agar pengunjung dapat menikmati irama lagu khas Melayu yang dimainkan dengan lebih rileks dan nyaman.

Setelah merasa cukup menikmati musik yang didendangkan, aku tertarik untuk masuk ke dalam istana tersebut. Apalagi ditambah banyak org yang berlalu lalang dengan mengenakan baju adat khas Melayu. Aku pikir “hari ini orang-orang penting istana lagi pada datang ya ke sini. Atau mereka adalah orang-orang istana?” Akhirnya aku pun masuk ke dalam dan melihat kemegahan interior suatu istana, dari atapnya yang penuh dilukisi dengan gambaran bunga di dalam segi enam dengan corak-corak menarik. Terdapat juga beberapa figura besar yang menunjukan potret dari orang-orang yang pernah berpengaruh dalam kerajaan tersebut. Dan akhirnya aku mengetahui darimana sumber baju-baju daerah yang dipakai hampir semua pengunjung di sana, yaitu adalah tempat penjual souvenir yang juga menyewakan baju daerah yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto, haha! Aku pun juga ikut mencoba menyewa baju daerah tersebut setelah aku berkeliling museum. Dan mencetak foto juga di sana! Menyewa baju daerah yang paling murah harganya 10k dan mencetak fotonya per lembar juga 10k. Senangnya harganya terjangkau, hihi.

Setelah puas melihat-lihat dan sedikit berfoto di sana, aku kemudian pergi mengunjungi Tjong A Fie Mansion. Biaya untuk masuk ke sana termasuk lumayan mahal sebesar 35k. Tapi hal itu sepadan dengan pengalaman yang ku dapatkan selama ku berkeliling di dalam sana. Setiap pengunjung/kelompok akan disiapkan tour guide yang akan membimbing pengunjung untuk dapat lebih mengenal tokoh di balik Tjong A Fie Mansion, yaitu ialah Tjong A Fie, seorang saudagar Tiongkok yang hijrah ke negeri Indonesia, tepatnya ke Medan. Keberadaannya di Medan berpengaruh besar dalam kemajuan kota tersebut yang akhirnya ia pun dikenal sebagai tokoh berjasa di sana. Dan mansion ini adalah tempat tinggalnya dahulu yg dijadikan museum untuk mengenang dirinya dan sejarahnya. Cucu dan cicitnya yang mengurus rumah tersebut kini.

 

This slideshow requires JavaScript.

Rumah tersebut benar-benar megah. Ada empat gaya perpaduan yang membangun bangunan tersebut, mulai dari gaya Eropa, Cina, Amerika, dan Indonesia. Perpaduan tersebut membuat rumah tersebut sangat cantik. Aku sangat senang sekali dengan halaman tengah rumah tersebut yg terbuka, sejuk.. sekali rasanya. Kalau kamu berkunjung ke Medan wajib ke sana bagi para pecinta sejarah dan arsitektur! 😉

 

dsc_0041

Setelah puas menyerap berbagai ilmu dan cerita, akhirnya aku pergi ke lokasi terakhir, yaitu Masjid Raya Medan. Di sana ternyata diwajibkan setiap wanitanya utk memakai hijab jika hendak masuk ke masjid tersebut. Jadi saat aku masuk melalui gerbang masjid, seorang wanita memberhentikan langkahku dan memberikanku selendang untuk aku kenakan sebagai hijab. Di sanaku sempatkan untuk salat dan beristirahat sejenak. Bersyukur dengan pengalaman menakjubkan yang kudapati hari itu.

Setelah selesai, akhirnya tujuan paling akhirku adalah ke tempat acara yang akan kantorku selenggarakan di Centre Poin untuk bertemu dengan beberapa orang.

Kantorku adalah sebuah kantor event organizer yang tiap tahun menyelenggarakan 5-7 bazaar setiap tahunnya ke kota-kota besar di Indonesia yang memiliki potensi untuk diadakan bazaar dengan tema tertentu yang menarik seperti di Jakarta. Dan pada setiap kami mengunjungi sebuah kota, kami merekrut beberapa kru untuk membantu acara kami terselenggara dengan baik. Begitu juga saat kami di Medan. Aku bertemu banyaak sekali teman baru. Berbagi pengalaman dan ilmu, bercanda tawa bersama. Namun aku awalnya agak minder dan asing dengan beberapa orang keturunan Tiongkok yang berbicara dengan bahasa Hokian (Hokkien), bahasa ‘Tiongkok’ – nya Medan, haha. Begitu juga dengan beberapa antar kru yang berbicara dengan bahasa tersebut. Aku bingung, hahaha.

Tapi secara keseluruhan Medan sangat menyenangkan. Berkunjung ke tempat wisata yang menarik kaya akan sejarah dan peninggalan terdahulunya dan juga bertemu dengan orang-orang baru yang akhirnya menjadi kawan. Sungguh pengalaman yg asyik!

Sampai bertemu lagi Medan! Tchüss! 🙂

Pose!

Adventures

YEAH! Hahaha!

 

I ever wanted to be a model. That is a dream that I’ve been dreaming from I was in primary school till now. I think a lot of girls around my age that time dreamed the same dream but afraid to shout it out cause later everybody would mock it. Or it just me who thought like that? Haha I don’t know. Maybe you could help me to answer that. 😉

But this is not my primary dream. I mean this is not what kind of job that will be my main job for life. I just want to feel and taste it, what does it feels. Then I found out this is really fun! What kind of time that you could be the center of view and looking good? Very good and maybe looks very gorgeous, girls! Hmm…

Let’s we see my poses, shall we?

 

img20161231114809

📷myself

 

Yeah! That’s it!

So what do you think? Am I good enough to be a model? 😝

Please share what you think.. I am begging you! Haha!

 

Bis bald! Tchüss!

 

 

 

 

Naik Pesawat

Adventures

dsc_0360

Naik pesawat itu menyenangkan, karena kita bisa terbang kemana pun tujuannya yang jaraknya jauh sekali pun.

Dengan bentuknya yang kokoh dan tangguh, mereka siap menerbangkanmu ke angkasa luas.

Jangan kaget dengan sensasi saat mereka membawamu naik ke angkasa dan bermanuver ke kiri dan ke kanan. Seperti saat sedang main roller coaster! Jantung dibuat deg-degan.

Saat sedang tenang melaju, jangan lupa untuk menengok ke langit dari jendela pesawat. Hamparan keindahan langit biru terpampang luas di sana. Putihnya awan yang bergumul membentuk koloni atau pun terpisah satu per satu. Cantiknya!

Kamu pun juga bisa memandang daratan dari sana. Gedung tinggi dan pulau-pulau semakin tampak mengecil ketika kamu semakin tinggi dibawa olehnya. Sungguh luar biasa penampakannya.

Aku kadang masih dan akan selalu takjub dan girang saat melihat keindahan angkasa dan demografi alam dari jendela kaca pesawat.

Terima kasih pengalamannya, Pesawat. Aku jadi bisa memandang alam lebih luas 🙂

Makassar I’m in Love

Adventures, All about Indonesia

Makassar is a hot and beautiful city located in South Sulawesi, Indonesia and was be my first city that I visited for the first time with my own effort through my job.

What? YES! I’m very excited about that and feel so proud of myself 😍

I love traveling and visit the place that I never went before. Especially Indonesia. I have the big dream that I want  to go to around every city in Indonesia and thank God I made it. I made my first move to go to Makassar.

salamaki-ka-battuanta1

When we are going to somewhere new, it’s always interesting to know more about the historical of the place that we’re going to. So when I was in Makassar I went to Pantai Losari and Benteng Ujung Pandang.

When you are in Pantai Losari, you could see many of big sign letters along the seashore. And there’s a lot of monuments there.

img_20160927_100752

Actually the seashore was transformed to be concrete floor. Till now I didn’t found any trusted historical information related to this transform. I felt a little bit sad when I figured it out that I couldn’t play with sand and little waves there 😦

The next one is Fort Rotterdam or you could called it Benteng Ujung Pandang.

It was Sultanate of Gowa who built this fort a long time ago. But when Netherlands came, they took control of this building, so the name of this fort became Fort Rotterdam.

dsc_0011

In this place, you could also go around to Museum La Galigo. This museum could tell you about the origin of Bugis tribe in Sulawesi. The numismatic and archaeological collections from this museum would tell you their stories too about Sulawesi Island.

And when you go travel to Makassar, don’t forget to try their wealth of various delicious tasty food. Yeah.. You have to try many famous food there like, pisang ijo, pisang epe, Bakmie Ujung Pandang, Sop Sodara, and anything else that I couldn’t tell you here cause there is so many! Haha! Those just the food that I ever tasted when I came to there. But so much more to try in the next trip. It’s a MUST! 😄

“Kota yang banyak orang bilang penduduknya keras dalam berkata dan perbuatan ini ternyata ramah dan baik hati terhadap saya yang terbilang orang Jakarta ini.

Dengan mencoba bergaul dan berbaur melalui logat mereka, kami bisa tertawa dan bercanda bersama.

Lingkungannya pun indah, meski di beberapa lokasi masih ada yang perlu diperbaiki agar lebih baik lagi dan ramah terhadap lingkungan.

Makanan-makanan yang tersedia di sini sangat menggoda lidah sehingga jadi ingin berlama-lama tinggal di sini untuk mencicipi kelezatannya..”

So, see you again Makassar!

p.s:

here’s the link of my video for you to look at during my trip in Makassar.

Go check it! (Makassar I’m in Love)

Another Corner of Jakarta

Adventures, All about Indonesia

So, yesterday I went to my friend’s house at Cempaka Putih, Central Jakarta with the train. I never went to her house with train and this was the second times I visited her house. And, “Let’s we try it!” I said it to myself. :3

Go anywhere with the train is very cheap and easy. I love it because the facilities of train in Jakarta are nicer now than the old times. So I took the train from Sudimara station and then got off from the train in Gang Sentiong station, the nearest station from my friend’s house.

Actually from Gang Sentiong station, I wanted took Gojek or Grab Bike. But when I booked, the driver was to far away from me and bla bla bla and etc. Too many excuses from driver so to shorten the time, I decided to just walk.

It took 38 minutes to go to my friend’s house from Gang Sentiong station (that was Google Maps said to me, hihi :p). And ABSOLUTELY I didn’t know where I was and I just counted on Google Maps to lead my way, haha! I trusted him. But, yeah, it would be really surprising me because I chose the ‘walk’ path on Google Maps. If you take ‘walk’ path on Google Maps, he really means it for the ‘walk’ path. Seriously. Cause he would show you the fastest way to get you to your destination, even that you have to through ‘gang sempit yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dari dua arah/motor satu arah‘ (narrow alleys).

The weather was so cool because the rain had stopped. Yesterday was rainy day because the rain started from 1 am to mid day. I loved it. Cause my skin didn’t have to meet with the sunlight and great temperatures to have a journey in the middle of crowd Jakarta.

For the first time I got insecure to walk with this path because I really didn’t know the situation and condition of this area. I’ve been very rarely there and that was the first time I walked around Cempaka Putih. But let’s get the adventure! Right? 😉

And these were my adventure.

IMG-20160618-WA0000 new

For the first time of my path, I interested to capture these things. These remain me of ‘becak’ (kind of cycle rickshaw but Indonesian version). After I took this picture, then something like a ‘becak’ passed in front of me but not with a cycle, but with motorcycle!

IMG_20160618_210053

This was cool. But I wonder why the glasses gone away, hmm..

IMG-20160618-WA0006 new

And yeah, this was the ‘gate’ for me to enter pasar (public market). I didn’t know that would be a pasar on my path.

IMG-20160618-WA0008 new

In this picture, I tried to take a picture of the barber shop. The barber shop looked so simple and the interior reminds me of jadul (old) era of Indonesia. I like jadul :3

The pasar crowd of people. There was a store that had large 1×2 m. But the unique of that store is the store full of people who wanted to see and go inside the store. There was a random line of queue to get in and someone stood by in front of the store. He spread his arms along the entry so people who not yet allow to come in couldn’t get in. But it was just an ordinary sandals and shoes store (as I saw from a distance). I was really amazed.

And there was a gold jewellery stores, colored snails, somebody who grilled chicken (damn! In the middle of fasting? Huh! :p)

DSC_0045 new

A nice beautiful house

DSC_0046 new

 

And those were my journey. Got lost in the middle of hectic, buildings and traffic of Jakarta. I just missed the different situation of my routine activities. And the jadul scenery of course. It is also really fun and challenging if you try to explore a new place with walking and accompanied by maps.

Let’s get more new adventures!