2017 to 2018 (Part 2: Board Game, Win or Lose)

Adventures, All about Indonesia

Aku tahu mengapa kakiku di awal pagi tahun yang baru berkedut-kedut ria.

Itu karena…

 

Aku bergegas kembali menyusuri jalanan dari Medan Merdeka Barat menuju Sarinah dan berjalan kaki pula menuju stasiun Gondangdia setelah selesai melihat-lihat keadaan menjelang tahun baru di sana. Sekitar 4.3km aku bolak-balik berjalan. Stasiun Gondangdia – Jl. Medan Merdeka Barat – Stasiun Gondangdia. Car Free Night malam ini benar-benar membuatku lumayan bergerak dan berolahraga, haha!

Pada akhirnya, ada seseorang yang mengajakku untuk bertemu dan bertahunbaruan bersama (akhirnya.. Ia seorang yang asyik dan sangat seru bila berdiskusi dengannya, bikin pinter).

Temanku mengajakku untuk pergi ke tempat bermain board game. Aku jarang bermain game, apalagi board game yang aneh-aneh. Paling-paling yang biasa ku mainkan adalah permainan kartu Uno, hahaha. Tapi tak ada salahnya untuk menguji dan mengasah keahlianku dengan hal ini.

Aku naik kereta ke sana. Dan sesampainya aku di sana, ku buka pintu depan tempat tersebut dan..

Dua pasang mata tertuju padaku dan terjadi situasi hening beberapa saat (orang-orang lainnya sedang asyik berteriak bersorak dan fokus pada permainan mereka). Hanya satu temanku yang mengajakku itu yang ku kenal saat ku sampai di sana.

Untungnya aku merupakan pribadi yang lebih berani dari diriku yang sebelumnya sehingga aku tidak sampai menunjukkan sikap salah tingkah yang bodoh. Aku menyapa temanku itu dan langsung bertanya, “Kamar mandi di mana ya?”

Setelah perjalanan yang cukup panjang berkeliling di pusat kota, tentunya penampilanku tidak serapi dan sesegar saat aku baru selesai mandi. Aku juga ingin buang air kecil jadi aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu.

Setelah itu, aku bergabung di meja temanku dan dua temannya yang menatapku saat aku baru tiba tadi. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka mainkan. Aku merasa mereka seperti sedang main Yu-Gi-Oh! namun bukan. Mencoba memperhatikan dan mengamati, tetap saja kosong pikiranku, tak mengerti sama sekali.

Akhirnya aku diajak untuk bermain bersama mereka. Kita mencoba permainan lainnya yaitu Splendor. Kamu tahu apa itu? Aku tidak tahu sama sekali :”)

Untungnya mereka mau mengajariku dari awal. Aku mencoba memahami namun hanya bisa menangkap beberapa. Masih tidak mengerti sebenarnya, hahaha! Dan ya, aku bermain seinstingku dan menjadi yang paling kalah. Masih benar-benar hampa rasanya pemahamanku akan permainan ini. Ketika giliranku untuk jalan dalam game ini, aku termenung berpikir cukup lama sekali sehingga membuat lawanku sedikit merasa sebal menunggu. “I can smell it, hmm.” Aku juga masih banyak bertanya selama permainan dimulai.

Permainan berikutnya aku diajak untuk bermain Avalon. Konsep permainannya mirip seperti Werewolf tapi yang ini bertemakan kerajaan dan ada sebuah misi bertarung yang harus diputuskan untuk dijalankan atau tidak (yak, selengkapnya bisa googling sendiri masing-masing yaa). Dan aku 3x permainan berturut-turut menjadi pihak yang jahat. Selain taktik dan strategi, dalam game ini keberanianku untuk berbicara dan meyakinkan semua orang diuji. Itu adalah poin yang masih menjadi kekuranganku untuk saat ini. Antara meringkuk, atau berani mengemukakan pendapat. Aku memilih untuk mengikuti alur permainan sambil mengamati dan mempelajari permainan. Masih belum berani bergerak banyak. Ketika aku sudah mulai lumayan paham, aku memberanikan diri untuk bersuara. Aku sampai keringat dingin menggigil dibuatnya. Namun aku tetap mencoba pasang gaya stay cool.

Beruntungnya pihakku menang 2x! Aku yakin hanya sekitar beberapa persen sumbangsihku membuat pihakku menjadi menang. Tapi tak apa. Aku berkesempatan belajar berani berbicara lagi di game ini.

Dan aku juga berkesempatan bermain Ice Cool di sini. Seru, dan tetap aku menjadi yang paling payah, hahaha! Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku belajar. Aku tetap berusaha untuk mengumpulkan poin. Akhirnya di putaran permainan terakhir, akulah yang menang. Benar-benar menang! Haha! Bahagia aku bisa menang!

Game terakhir saat waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 pagi, Splendor kembali dimainkan. Aku ikut bermain dan mulai lumayan paham dengan cara bermain dan apa yang menjadi target dalam permainan. Walau pada akhirnya aku kalah lagi, aku tidak lagi sebodoh yang dulu. Aku belajar dan memahaminya.

 

 

 

Advertisements

2017 to 2018 (Part 1: Keliling Jakarta)

Adventures, All about Indonesia

[1 Januari 2018]

Kaki berkedut. Tak bisa tidur walau pagi sudah menunjukkan pukul 9.00, sepertinya.

Dan tetap mesam mesem tersenyum sendiri memikirkan si dia sambil mencoba tidur..

 

[31 Desember 2017] 

Tahun baru kali ini aku tidak tahu akan pergi dengan siapa. Dan dalam benakku, aku sudah ada pemikiran untuk pergi ke pusat kota di mana perayaan besar menyambut tahun yang baru diselenggarakan di sana. Aku tidak pernah ke sana saat tahun baru. Biasanya aku hanya akan duduk di depan TV dan menonton perayaan ini dari rumah. Dan menonton movie box office (yang kembali itu-itu saja yang diputar) yang disediakan oleh TV nasional tentunya.

Tekadku bulat untuk mencoba merasaka sesuatu hal yang baru. Aku pun tak peduli walau hanya pergi sendiri ke sana. Aku akan pergi!

Kebetulan kedua orang tuaku juga memiliki acara sendiri dengan teman-temannya. Jadi mereka pergi dari subuh. Ibuku sangat ingin mengajakku pergi bersamanya karena tidak mau aku sendirian di rumah. Tapi aku tahu pasti perjalanan bersama mereka dan ibu-ibu lainnya akan seperti apa jadi aku bersikeras untuk “tidak moom, ade punya aktivitas sendiri. Mama seneng-seneng ya di sana. I’ll be fine. Mmuuaach!”

Yes! Aku memiliki masa tenangku sebelum akhirnya siap-siap berangkat menuju pusat kota. Aku berefleksi diri dan menulis beberapa catatan di buku jurnalku. Juga menyempatkan memilih buku baru yang selanjutnya harus ku baca sampai habis (membaca 1 buku/bulan merupakan resolusiku tahun lalu yang baru hanya 1/4 persen kejadian sehingga untuk tahun 2018, aku akan mengusahakannya agar 1 buku/bulan dapat terlaksana!). Aku mencoba membacanya di rumah sebelum berangkat. Buku itu adalah Fish Eye karya Handoko Hendroyono. Setelah ku baca beberapa halaman.. “Buku ini bagus!” dengan sumringahnya karena merasa mendapat pencerahan dari membaca buku itu.

Hujan pun tiba-tiba datang mengguyur kota. Begitu juga dengan rumahku. Petirnya sangat menyeramkan! Bulu kudukku merinding mendengar suara gelegar guruhnya. Yang tadinya aku berencana untuk pergi sekitar jam 2 siang, aku mengurungkan niatku dan menunggu hujan hingga reda.

Sekitar pukul 4 sore hujan sudah mulai mereda. Masih datang rintik-rintik kecil yang membasahi, namun kupikir tak apa. Ku bersiap berganti baju. Baju kasual dan simpel yang ku pilih, kemeja tipis jatoh bergelombang yang tetap membuatku memberi kesan lincah dan feminim. Juga topi mangkok dan kacamata besar kotak bulatku yang menjadikanku terkesan vintage dan artsy.

Aku berkeliling daerah rumahku dulu dengan motorku. Ada suatu belokan yang ingin ku tahu akan berujung ke mana. Karena biasanya, belokan itu hanya berlalu di sisi ku saat aku mengambil jalan lainnya, yaitu jalan utama dari daerah tersebut.

“Hmm.. ke sini ternyata ujungnya.”

Kemudian aku mencoba menyusuri satu jalan yang sering ku lewati, namun ku ingin tahu terdapat toko apa saja sepanjang jalan itu.

“Wokh! Ada Eatlah buka di situ! Wow! Sudah merambah Bintaro rupanya.”

Akhirnya aku menuju ke stasiun terdekat dari rumahku untuk pergi ke pusat perayaan. Sambil tetap menikmati jalanan, aku berlalu dengan kecepatan sedang sekaligus menikmati angin dan suasana sekitar yang ada di hadapanku. Aku menikmatinya. Aku senang!

Yak! Tujuan pertamaku ke pusat perayaan tahun baru adalah Kota Tua. Kemudian berlanjut ke Monas, yaitu tempat puncak perayaan seluruh masyarakat DKI Jakarta.

Mulai dari menaiki kereta hingga selesai perjalananku menyusuri jalan Sarinah hingga Medan Merdeka Barat, perjalananku terekam dalam rangkaian jepretan foto.

IMG20171231161959

Stasiun Tn.Abang

 

Dari Stasiun Tn.Abang menuju Kota

 

Pemandangan sekeliling Jl. M.H. Thamrin

Keseruan ku tak hanya berhenti dengan melihat sepasang gubernur dan wakil gubernur di #nikahmassal2017, tapi juga berlanjut pada arena permainan board game. Kalian tahu board game? Klik ini untuk melihat cerita selanjutnya. Ciao! 😉

 

Apa yang Kamu Lakukan Saat di Kereta?

Adventures, All about Indonesia, Life, Thoughts

Termenung di dalam kereta yang menyesakkan di pagi hari itu bisa menyenangkan.

Momen di mana sunyi menghinggapi perjalanan panjang berangkat bekerja.

Memperhatikan jalanan dan aktivitas pagi hari para pegiat di pagi hari dari kaca jendela kereta.

Mengikuti dan menyusuri arah ujung dari suatu jalan yang berada tepat di sisi jalur kereta. “Ke mana kah ujung akhir dari jalan itu?” Sesekali dalam benak bertanya dengan gemas karena keingintahuan.

Juga nampak taman dan lahan-lahan kosong yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan.

Matahari pun turut memeriahkan pagi dengan sinarnya hingga pagi terasa bersinar.

 

Atau bahkan teringat akan momen pagi hari sebelum berangkat bekerja.

Keributan pagi hari saat siap-siap untuk bekerja. Ada Mama yang memasak. Namun kemudian ada yang akhirnya jadi marah-marah karena suatu hal sepele. Ada yang mengambek dan jadinya tidak bawa bekal. Ada yang tidak banyak berkata namun berpikir dan menyimpannya dalam benak dan hati sendiri.

“Aku seharusnya tadi bertindak begini ya saat mama sedang kesal tadi,” pikirku memikirkan suatu tindakan yang lebih baik dibanding mengambek dan acuh tak acuh.

 

Dan juga memikirkan hal manis..

Memikirkan dia dan mengkhayal menghabiskan waktu dengannya.

Juga memikirkan mimpi-mimpi yang ingin diraih. Memikirkan dan merencanakan langkah-langkah yang akan diambil dalam rangka mewujudkan yang dicita-citakan.

 

Saat akhirnya kereta sampai di stasiun terakhir yang menjadi tujuan hampir dari seluruh penumpang, jarak antara penumpang satu dengan lainnya yang memang sedari awal sudah menempel menjadi semakin menempel dan ada tekanan yang condong ke satu arah.

Pintu. Pintu untuk keluar dari kereta.

Semua bersiap untuk segera keluar duluan.. fokus kembali.. dan yak! Siap memulai petualangan kerja masing-masing.

First Day, Monday.

All about Indonesia, Thoughts

I was so lazy to wake this morning. Like, holiday fever still dangled after me.

“Oh.. I’m tired with my job, I’m bored. Uh! Huhu still want a holiday…”

WAKE UP!

 

So, I woke up and prepared for my lunch. I was a lil bit worry about what time exactly the latest for me to go to chase my train. Holiday made me forget about work and all small things about it. So I moved and prepared all as fast as I can. The clock ticked by the time goes by.

Hup! I was on the train station and my train was about to come. I hope this train wouldn’t bring me to the lateness.

In the middle of way, my train was stuck. It’s about 30 minutes less in total the train stuck in couple of stations. Yeah, an inner-city train from Indonesia… Especially after a long holiday, sometimes they become slow like a snail. Then, every schedules will be delayed.

But, fortunately, I wasn’t late. Thank God! So I don’t have to pay a fine for my lateness, haha. And this is your first day after holiday and you were late? Hmm.. I prefer be on time for this.

When I was on the train and when I was on the road with my ‘ojek online’ to my office, the people and the vehicles were less then the daily routine the weekdays of work. Did you feel the same with me? I think these all workdays is not really effective in the first day, made me want to lose with all disappearing people too.

But, when I saw and met my friends in the office, I thought I change my mind. I would be died of boredom because I just stuck on my home, not meet with the people. And that was great in the office. Me and my friends also talk much about something beside our work. I got a new knowledge about calories and facts about healthy daily meal. Also.. now I can read and understand about nutrition facts in every food packaging! And the first word on ingredients in every food is the main of the whole ingredients of its food. That’s really good right? That now you could understand about what you eat and you’ll be a smart consumer. Right?

After all, this was a good day for me. One of my productive days!

But, how about you? Were you enjoyed your day?

 

Hope you all good there and.. see you then. Tchüss! 😉

 

Lebaran: Dahulu & Sekarang

All about Indonesia, Life, Thoughts

Bulan puasa benar-benar berlalu dengan sangat.. cepatnya.

Sangat cepat sekali tahun ini.

 

Pagi ini aku bangun siang di tengah yang lain berbondong-bondong shalat Idul Fitri bersama. Aku sedang berhalangan. Agak merasa kecewa dengan terpaksa aku melewati perhelatan shalat yang hanya sekali setahun ini.

Pssst! Di sisi lain, aku bahagia bisa bangun siang, hahaha.

Namun, semakin tahun, rasanya semakin klise perhelatan besar ini. Rasanya jadi biasa. Tidak seperti waktu dulu ketika kecil, hari raya besar ini terlihat megah dan semarak. Rasanya benar-benar beda sekali ketika zamanku kecil dulu. Dahulu lebih hangat rasanya.

Ayah ibu dan aku bersama tetangga lainnya dulu pernah berkeliling mengunjungi beberapa rumah tetangga lain untuk disinggahi hanya untuk bercengkrama bersama. Aku masih menjadi bocah cilik saat itu dan tidak tahu malu untuk menghabiskan kue-kue lebaran yang tersedia di meja. Dan juga sempat menjadi penyuguh kue cilik ke pengunjung lainnya padahal aku bukan tuan rumahnya.

Bagaimana dengan lebaranmu?

Sekarang dengan tetangga lainnya hanya berkumpul di tempat shalat, lalu bermaaf-maafan, setelah itu pulang ke rumah masing-masing dan menjalani kembali urusan masing-masing.

Hari ini ibuku terlihat cantik sekali, senang melihatnya. Beliau berdandan rapi dan mengenakan baju yang bagus.

Mulai dari tahun lalu, aku dan keluargaku kembali berkeliling lebaran dengan menggunakan mobil. Alhamdulillah sudah ada mobil lagi kembali, jadi lebaran tidak perlu lagi iring-iringan seperti geng motor, hihi.

Yang aku rindukan ketika berkeliling menggunakan mobil adalah kebersamaannya saat berada di dalamnya. Kalau dahulu aku berebut tempat duduk dengan kakak keduaku. Dia dan aku tidak ada yang mau mengalah. Namun pada akhirnya diputuskan aku duduk di tengah dengan di samping kanan ada ibuku. Ya, ibuku yang bila dalam perjalanan aku lelah, aku tidur di pangkuannya, hingga membuat banyak pulau iler.

Kalau kali ini yang cilik adalah keponakanku yang suka aku usili dan ajak main. Dia tidak rewel sepertiku untuk mengenai masalah tempat duduk. Dan tadi kita membeli cemilan di mini market dan memakannya bersama-sama selama dalam perjalanan. Serunya kalau bersama-sama.

DSC_1628

Lebaran juga merupakan sebuah presensi bagiku lho! Mempresensi saudara-saudaraku yang hadir berkumpul dan mencoba mengingat ingat kembali siapa nama mereka karena kami bertemu paling tidak setahun sekali saat momen lebaran. Hal ini menurutku yang paling lucu dari semua kejadian yang terjadi saat lebaran, hahaha.

Tapi pastinya semakin kita bertambah usia semakin banyak yang dihadapi mengenai perihal kedewasaan. Nah, di momen lebaran ini pun aku menggunakan kesempatan bercengkrama dengan saudaraku untuk memperbincangkan hal tersebut. Salah satunya adalah pekerjaan. Yaa.. karena dipancing juga dengan pertanyan, “Udah lulus? Kerja di mana sekarang?” Aku mulai mengobrol dengan saudaraku yang sudah memasuki dunia ini lebih dahulu dibandingkan denganku. Aku mencoba mencari tahu bidang pekerjaan lain yang ditekuni oleh saudaraku lainnya. Dan jawaban mereka beragam.

Semuanya menjalani hidup dan mencoba bertahan. Masing-masing memiliki jalannya sendiri. Semua kembali kepada diri kita bagaimana kita akan mengarungi hari-hari panjang ini dengan seperti apa. Kalau aku menginginkan petualangan yang seru, menegangkan, dan menyenangkan! 😀

Oh ya! Karena perhelatan akbar ini aku tidak mau merasa semakin biasa, akhirnya aku mencoba mengontak satu-satu teman terdekatku untuk bermaaf-maafan. Biasanya aku malas. Tapi kali ini aku ingin kembali menjalin kedekatan dengan teman-teman terdahuluku yang sempat ku hiraukan padahal mereka sering sekali peduli padaku. Tentunya aku menggunakan kata-kata yang tidak hanya asal copas, tapi juga kusematkan beberapa pesan khusus untuk mereka masing-masing. Masing-masing orang berbeda pesannya. Namun semoga pesannya benar-benar mereka rasakan tulus dari temannya yang kadang suka acuh tak acuh ini.

 

Selamat berlebaran! Minal aidin wal faizin!

Tchüss! 😉