Tertahan

Thoughts

Aku pusing sekali.

Ingin melakukan sesuatu, namun pikiran-pikiran yang ada di kepalaku menahanku.

Aku harus tenang.

Aku bisa. Aku bisa meraih apa yang aku ingin capai.

 


 

Aku harus berlari kemana?

Banyak sekali yang ingin aku lakukan.

Namun seringkali terhalang.

Oleh diriku sendiri yang tertahan dalam kamarku.

Mereka tidak tahu.

Mereka tak mengerti.

Ku berlari keluar untuk mencari ketentraman.

Hijau dedaunan dan rintik-rintik hujan membuatku merasa lebih tenang.

Aku harus keluar.

Aku harus berekspresi.

Advertisements

Your Support is Everything..

Thoughts

My life much better now, really I am.

 

Akhir-akhir ini Metro TV menayangkan tayangan-tayangan yang bertemakan dimensia terkait dengan mempromosikan ajang Film Festival Eagle Awards yang mengangkat tema dimensia, suatu penyakit berkaitan dengan hilangnya ingatan. Penyakit ini biasa diidap oleh orang yang sudah tua berumur 60 tahunan ke atas. Dan hal ini tentu mengingatkan aku akan ibuku yang tahun ini sudah memasuki umur 63 tahun.

Cuplikan informasi yang ditayangkan oleh Metro TV juga memperlihatkan bagaiamana sosok penderita benar-benar lupa akan sesuatu. Bahkan pada fungsi kecap rasa manis, asam, dan asin mereka bisa lupa dan tidak merasakannya ketika diuji coba.

Kalau mamaku.. dia suka lupa menaruh barang di mana dan aku yang menjadi pengingatnya. Aku tidak tahu apakah ini termasuk gejala dimensia ringan atau bagaimana, tapi sepertinya ibuku belum sepikun orang-orang lain yang mengidap penyakit dimensia.

Dan semakin lama semakin hari wajah ibuku terlihat lesu dan tidak segar seperti dahulu. Atau mungkin sekarang sedang banyak yang dipikirkan jadi wajahnya terlihat kuyu. Aku pikir sepertinya begitu.

Aku sudah mulai beranjak dewasa, aku semakin mandiri. Aku semakin sibuk mengejar cita-cita dan pengalaman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Di sisi lain ibuku semakin menua, semakin lemah, dan sering sakit.

Ada saat di mana aku tetap ingin ibuku mandiri akan dirinya sendiri dan membiarkan ia melakukan segala sesuatu sendiri sehingga aku menjadi keras terhadapnya. Namun tetap saat aku sudah tidak dengan kegiatan dan aktivitasku, aku akan kembali untuk menemaninya di rumah (karena ia takut sendirian di rumah, hihi).

Namun, apabila tiba-tiba ibuku mengalami dimensia? Pada awalnya pasti aku tidak tahu harus berbuat apa dan pasti akan sangat merindukannya.

Mengalami penyakit dimensia atau tidak, ia ibuku tetap butuh perhatianku dan kasih sayang dari puterinya ini. Aku harap walau aku akan semakin sibuk nantinya, tetap ada waktu untuk memberi perhatian dan memberikan senyuman gemashhh padanya. Karena aku sering kali merasa gemas dengan tingkah ibuku, haha.

Berkaca dari hal ini, aku pun merefleksikan kejadian ini pada diriku sendiri. Β Dahulu aku sering menangis karena merasa tidak punya teman dan tidak bisa bergaul dengan baik dengan teman-teman sekelilingku. Aku memiliki ketakutan terhadap orang yang aku rasa dari segala sisi β€˜lebih’ dibanding dengan diriku. Dari segi psikologi, aku merasa depresi dan tertekan.

Namun untungnya kini aku memiliki lingkungan yang suportif dan mengerti akan diriku. Aku merasa sangat bersyukur. Dan pada akhirnya, aku bisa berekspresi lebih baik di lingkunganku.

Aku tidak akan pernah memahami mengenai hal ini jika aku tidak mengalaminya sendiri. Dan untungnya aku diberikan jalan keluarnya. Sehingga mulai saat ini, jika ada hal-hal psikologis seperti ini terjadi pada orang-orang sekelilingku, aku berusaha memahaminya dan memberikan semangat. Karena.. sadar atau tidak, setiap orang pasti ingin diberikan perhatian dan kasih sayang, agar tentunya dapat terus bersemangat dan tersenyum dalam hidupnya, dapat berkehidupan dengan baik.

Hi. Perkenalkan, ini aku.

Thoughts

Aku memang orang yang perasa sekali.

Namun aku harus bisa mengontrolnya agar aku bisa berinteraksi dengan orang banyak dengan lebih mudah.

Di satu sisi kelemahanku ini menjadi keuntungan bagiku.. karena aku bisa mengungkapkan persaanku dengan benar-benar tulus.. dan menuangkannya, merangkainya dalam kata-kata.

Agar perasaan ini bisa ku bagi dengan lainnya…

Say

Thoughts

Say..

Some of words need to be said to people
Some of words need to be said to friends
Some of words need to be said to our family
Some of words need to be said to someone we trust
And some of words only we can say on our mind

Need to.. Or can?

No. Not say. But tell

Say and tell

Share

It’s a need

I need that

You..

First Day, Monday.

All about Indonesia, Thoughts

I was so lazy to wake this morning. Like, holiday fever still dangled after me.

“Oh.. I’m tired with my job, I’m bored. Uh! Huhu still want a holiday…”

WAKE UP!

 

So, I woke up and prepared for my lunch. I was a lil bit worry about what time exactly the latest for me to go to chase my train. Holiday made me forget about work and all small things about it. So I moved and prepared all as fast as I can. The clock ticked by the time goes by.

Hup! I was on the train station and my train was about to come. I hope this train wouldn’t bring me to the lateness.

In the middle of way, my train was stuck. It’s about 30 minutes less in total the train stuck in couple of stations. Yeah, an inner-city train from Indonesia… Especially after a long holiday, sometimes they become slow like a snail. Then, every schedules will be delayed.

But, fortunately, I wasn’t late. Thank God! So I don’t have to pay a fine for my lateness, haha. And this is your first day after holiday and you were late? Hmm.. I prefer be on time for this.

When I was on the train and when I was on the road with my ‘ojek online’ to my office, the people and the vehicles were less then the daily routine the weekdays of work. Did you feel the same with me? I think these all workdays is not really effective in the first day, made me want to lose with all disappearing people too.

But, when I saw and met my friends in the office, I thought I change my mind. I would be died of boredom because I just stuck on my home, not meet with the people. And that was great in the office. Me and my friends also talk much about something beside our work. I got a new knowledge about calories and facts about healthy daily meal. Also.. now I can read and understand about nutrition facts in every food packaging! And the first word on ingredients in every food is the main of the whole ingredients of its food. That’s really good right? That now you could understand about what you eat and you’ll be a smart consumer. Right?

After all, this was a good day for me. One of my productive days!

But, how about you? Were you enjoyed your day?

 

Hope you all good there and.. see you then. TchΓΌss! πŸ˜‰

 

Lebaran: Dahulu & Sekarang

All about Indonesia, Life, Thoughts

Bulan puasa benar-benar berlalu dengan sangat.. cepatnya.

Sangat cepat sekali tahun ini.

 

Pagi ini aku bangun siang di tengah yang lain berbondong-bondong shalat Idul Fitri bersama. Aku sedang berhalangan. Agak merasa kecewa dengan terpaksa aku melewati perhelatan shalat yang hanya sekali setahun ini.

Pssst! Di sisi lain, aku bahagia bisa bangun siang, hahaha.

Namun, semakin tahun, rasanya semakin klise perhelatan besar ini. Rasanya jadi biasa. Tidak seperti waktu dulu ketika kecil, hari raya besar ini terlihat megah dan semarak. Rasanya benar-benar beda sekali ketika zamanku kecil dulu. Dahulu lebih hangat rasanya.

Ayah ibu dan aku bersama tetangga lainnya dulu pernah berkeliling mengunjungi beberapa rumah tetangga lain untuk disinggahi hanya untuk bercengkrama bersama. Aku masih menjadi bocah cilik saat itu dan tidak tahu malu untuk menghabiskan kue-kue lebaran yang tersedia di meja. Dan juga sempat menjadi penyuguh kue cilik ke pengunjung lainnya padahal aku bukan tuan rumahnya.

Bagaimana dengan lebaranmu?

Sekarang dengan tetangga lainnya hanya berkumpul di tempat shalat, lalu bermaaf-maafan, setelah itu pulang ke rumah masing-masing dan menjalani kembali urusan masing-masing.

Hari ini ibuku terlihat cantik sekali, senang melihatnya. Beliau berdandan rapi dan mengenakan baju yang bagus.

Mulai dari tahun lalu, aku dan keluargaku kembali berkeliling lebaran dengan menggunakan mobil. Alhamdulillah sudah ada mobil lagi kembali, jadi lebaran tidak perlu lagi iring-iringan seperti geng motor, hihi.

Yang aku rindukan ketika berkeliling menggunakan mobil adalah kebersamaannya saat berada di dalamnya. Kalau dahulu aku berebut tempat duduk dengan kakak keduaku. Dia dan aku tidak ada yang mau mengalah. Namun pada akhirnya diputuskan aku duduk di tengah dengan di samping kanan ada ibuku. Ya, ibuku yang bila dalam perjalanan aku lelah, aku tidur di pangkuannya, hingga membuat banyak pulau iler.

Kalau kali ini yang cilik adalah keponakanku yang suka aku usili dan ajak main. Dia tidak rewel sepertiku untuk mengenai masalah tempat duduk. Dan tadi kita membeli cemilan di mini market dan memakannya bersama-sama selama dalam perjalanan. Serunya kalau bersama-sama.

DSC_1628

Lebaran juga merupakan sebuah presensi bagiku lho! Mempresensi saudara-saudaraku yang hadir berkumpul dan mencoba mengingat ingat kembali siapa nama mereka karena kami bertemu paling tidak setahun sekali saat momen lebaran. Hal ini menurutku yang paling lucu dari semua kejadian yang terjadi saat lebaran, hahaha.

Tapi pastinya semakin kita bertambah usia semakin banyak yang dihadapi mengenai perihal kedewasaan. Nah, di momen lebaran ini pun aku menggunakan kesempatan bercengkrama dengan saudaraku untuk memperbincangkan hal tersebut. Salah satunya adalah pekerjaan. Yaa.. karena dipancing juga dengan pertanyan, “Udah lulus? Kerja di mana sekarang?” Aku mulai mengobrol dengan saudaraku yang sudah memasuki dunia ini lebih dahulu dibandingkan denganku. Aku mencoba mencari tahu bidang pekerjaan lain yang ditekuni oleh saudaraku lainnya. Dan jawaban mereka beragam.

Semuanya menjalani hidup dan mencoba bertahan. Masing-masing memiliki jalannya sendiri. Semua kembali kepada diri kita bagaimana kita akan mengarungi hari-hari panjang ini dengan seperti apa. Kalau aku menginginkan petualangan yang seru, menegangkan, dan menyenangkan! πŸ˜€

Oh ya! Karena perhelatan akbar ini aku tidak mau merasa semakin biasa, akhirnya aku mencoba mengontak satu-satu teman terdekatku untuk bermaaf-maafan. Biasanya aku malas. Tapi kali ini aku ingin kembali menjalin kedekatan dengan teman-teman terdahuluku yang sempat ku hiraukan padahal mereka sering sekali peduli padaku. Tentunya aku menggunakan kata-kata yang tidak hanya asal copas, tapi juga kusematkan beberapa pesan khusus untuk mereka masing-masing. Masing-masing orang berbeda pesannya. Namun semoga pesannya benar-benar mereka rasakan tulus dari temannya yang kadang suka acuh tak acuh ini.

 

Selamat berlebaran! Minal aidin wal faizin!

TchΓΌss! πŸ˜‰

Being Accepted

Life, Thoughts

Being accepted on my many groups of society is a little bit hard for me. Not because I’m not being my own self, but sometimes I hide myself from them..

 

Actually that means I’m not being myself too when I’m hiding myself (being quiet instead of talking). In fact, I love crowds and love to talk to many people. You know, I’m a proud extrovert. Haha.

I knew some of well known quotes about being yourself that we have to be ourselves when we interact with people. Those quotes trying to say not faking yourself to please others. Like Dave Pelzer once said “When you please others in hopes of being accepted, you lose you self-worth in the process.”

But I act seems like a strange weird quiet person is not because I hope other people accept me as that kind person. Moreover, I do not want to please people when I’m hiding the true of me. I’m hiding myself because sometimes I feel shy and afraid of some of people that make me small when I interact with them.

I talk and discuss here just want to say what is on my mind and this is not a small problem if this bother you all the time. I want to fix it and learn. I want to change it. And I think somewhere out there, there is a lot of people who have same problem with me, the lack of encouragement to talk to the people.

It is not about you are an extrovert or introvert person. It’s about we are not being a strange weird quiet person because we’re shy and afraid.

So here’s a little tips from me from my hypothesis of myself and from when I interact with my friends (I also learn how they interact with others then I’m trying to apply to myself) for us to be a good interact people on society:

  1. Be a down to earth person instead of sucks arrogant person. This is the first thing we have to change!
  2. Then confident about ourselves, about who we are. Find what’s really you love to doing. Know ourselves first, what you like, what you hate and what you love the most. It is important to know ourselves before we are starting to know others. If we are already known ourselves, then we will be confident about ourselves. We will be ready to interact with others.
  3. State what we think, our opinion instead of we just keep it on our mind. Don’t be afraid. We just have to say it calm and politely.
  4. Β “Asumsi itu membunuh.” Yes, assumption kill you. So, keep positive thinking with every single things on ahead. Don’t be overthinking.
  5. Be the one who have many experiences and knowledge. It will give us so many ideas for our work and for just a topic when we talk to a friend.
  6. And last but not least is care. “I follow three rules: Do the right thing, do the best you can, and always show people you care,” said Lou Holtz.

 

I hope those will be work for us to be more better and better us every single day. I still struggling and trying the best of myself from those tips. It’s not easy to change ourselves, but at least we are trying to be a better man.

Bye! See you later! πŸ˜‰

 

 

Hari Peringatan Tahun Baru Saka

Thoughts

 

Kalimat IG Post3

Backgorund photo from wego.co.id

Nyepi adalah sesuatu yang asing bagiku. Aku hanya sering dengar kata-kata itu lewat rentetan libur nasional negaraku. Namun tidak pernah aku paham apa itu Nyepi.

Beberapa hari lalu di layar timeline Line-ku, kulihat ada sebuah postingan yang di-like oleh temanku. Isinya mengenai Nyepi. Begini isinya..

 

Nyepi Esok Hari

Esok hari, waktu akan berjalan seperti biasa. Kami akan terjaga saat subuh karena gema adzan dari masjid kampung yang tak jauh dari rumah. Kami akan bangkit dari tempat tidur karena susulan adzan lain tak jauh di ujung lainnya. Adzan akan tetap sahut menyahut, sebagian merdu, sebagian lagi dengan lantunan yang datar berusaha mengumpulkan energi positif. Esok adalah hari biasa saja di sekitar rumah kami. Kehidupan akan berjalan normal.

Di rumah, kami bertiga akan berusaha menjadikan hari biasa itu istimewa dengan cara menyepi. Nyepi berarti tidak menyalakan api (amati geni), terutama api di dalam diri yang berupa ego dan kemarahan. Nyepi berarti menjinakkan semua itu. Maka lantunan suara adzan di pagi buta akan terdengar lirih laksana kidung-kidung suci yang mendamaikan. Nyepi berarti tidak bepergian (amati lelungan) maka imajinasipun akan sejenak kami selimuti agar dia tidak lelah berjalan ke tempat-tempat yang jauh. Hasrat dan imajinasi akan kami istirahatkan untuk merawat dirinya sendiri yang nampaknya lelah berkelana setahun lamanya.

Nyepi berarti tidak bekerja (amati karya) karena hanya saat tubuh diam maka kontemplasi berjalan dengan alami. Otot dan otak akan kami istirahatkan dan membiarkannya berbicara pada dirinya sendiri untuk mengenal kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Raga akan kami beri ruang untuk berdialog dengan ketiadaan gerak sehingga saling memahami dan terutama memaafkan kekhilafan yang pasti tak terhitung jumlahnya. Nyepi berarti tidak menikmati kesenangan (amati lelanguan) yang berlebihan maka akan kami arahkan hati untuk bisa tersenyum dan bergembira hanya dengan cara diam. Maka godaan untuk menikmati hiruk pikuk sosial media yang mengundang tawa akan kami biarkan untuk dinikmati oleh para sahabat lain yang tidak merayakan Nyepi. Senyum dan kepuasan akan kami hadirkan dalam diam di tengah ketiadaan drama dari luar jendela. Karena demikianlah Nyepi, menjauhkan diri dari kesenangan berlebihan demi paripurnanya kontemplasi saat berjalan ke dalam diri.

Di siang hari, ketika doa-doa kami panjatkan di dalam hati dan tanpa kepul asap dupa, adzan tentu akan kembali menemani. Khusu’ silasana di depan Padmasana mungkin akan dilatari deru pesawat terbang yang membelah angkasa Jogja, atau deru mobil dan motor yang memindahkan raga-raga yang bergegas berjingkat menunaikan amanat. Semua itu tak akan mengganggu kami, itu pasti. Jikapun ada, satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan yang kami biarkan terganggu. Seperti nasihat para bijak cendikia, suara dan kata-kata sesungguhnya tak melukai, kecuali jika kami mengizinkannya. Dan itu tak akan terjadi di hari Nyepi karena Nyepi adalah tentang perenungan diri, bukan tentang tuntutan kepada orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Selamat menikmati sepi dalam keramaian dunia. Jika pernah kita berharap akan nasihat yang menggerakkan kita menuju kebajikan, saatnya sepi berkhotbah tanpa kata-kata. Saatnya kebijaksanaan itu hadir dari bisikan lirih angin senja atau cengkerama daun-daun kamboja yang berkelar dengan tikaman matahari di sore hari. Selamat menyambut Nyepi.

I Made Andi Arsana
Warga Jogja, Pembina KMHD UGM

 

Isi postingan di atas adalah mengenai seorang keturunan Bali yang tinggal menjadi warga daerah Jogjakarta. Kalau di Bali, perayaan Nyepi benar-benar sunyi dan tidak ada aktivitas sama sekali selama 1 hari. Namun bagaimana bila orang Bali tinggal di tempat lain yang tidak merayakan perayaan Nyepi sekhidmat di Bali?

Tapi dari postingan di atas aku langsung mengerti apa makna dari Nyepi, makna dari berdiam diri Nyepi. Dulu ku kira hanya, ya.. sekedar tidak melakukan aktivitas apa pun seharian itu. Ternyata maknanya lebih dari itu dan mendalam. Nyepi di atas juga menunjukkan ku bagaimana suatu minoritas bertahan di suatu masyarakat, bagaimana berbeda namun tetap saling berdampingan.

 

Menurutku, terkadang saat seseorang fokus pada sesuatu, hal lainnya jadi tak terpikirkan. Aku sendiri pun mengakui bahwa aku pun begitu. Namun pentingnya orang lain dan lingkungan sekitar dalam kehidupan kita adalah sebagai pengingat akan hal penting yang sebenarnya juga penting dalam hidup kita, namun terlupakan. Begitu pun dengan perayaan Nyepi yang diadakan satu kali dalam setahun. Setiap tahun perayaan ini akan selalu hadir dan dirayakan oleh semua masyarakatnya. Perayaan ini membantu kita rehat sejenak dari hiruk pikuk duniawi dengan ketenangan, kedamaian, dan berserah diri pada Yang Kuasa.

 

And here’s my work for respect and cherish this celebration πŸ™‚

Aging

Life, Thoughts

This year I’m going to 24th. It’s so fast and a lil bit spooky for me.. because I think my youth era will be over. I’m afraid being old. Wrinkled and everybody gonna call you ma’am or aunt. Are you guys feel the same with what I feel right now?

In other case, my generation and me now are the newbie in the world of work. For the first time we are so gambling whose company will accept our application. We try as many as we could apply to hundred of employers. Who’s lucky, will get the good job so quickly.

For me, it is not easy to find the right place for me. I ever worked in 4 companies who are running in different field. I did those in 9 months and feel hopeless at that time with this work zone cause I didn’t feel comfort. Each company that I’ve ever worked has different minus that made me moved out. But of course, there’s still positives that I could learn from them. Then, thank God finally I got the good one πŸ™‚

When we work at a company, as an employee we will work individual and in a team. In my work now, I learn a lot of things from my team. I think it’s really great if you’re work in a team. We interact, learn to know each other, find the solution together, sharing, laugh together, try something new and funny together, we work together as a team, help each other, and of course.. a lot of foods, haha!

Yes, sometimes there must be come argument and resentful. But all of these good and bad make us learn more about ourselves and try to fix and be better man. This is what I feel about work zone and makes me not a stiff man no more.

Yeah. I ever be a stiff man who is too touchy and resentful, not a good man to make interesting conversations with somebody, boring, shy and sheepish, stutter…

That was really sad, really really sad. I felt sad to myself. But at that time I didn’t know what to do.

Those was me. But now I think I’m better πŸ˜€

And after I graduated from German Studies in 2015, I just realize I love craft. So I think I need to study again, learn about design.

I also not really much do traveling till this time. I want to travel all of places in the world, and I pray I could do this when I still have time.

And last but not least, MARRIAGE! God help.. 😦

When I was a teenager, I couldn’t wait to get married, get a lot of cute children, taking care of them, loving my partner.. Oh gosh. Now I’m single, yeaah.. haha. And I still wanna chase many things. And my savings is not enough and not ready yet for it. But I have to face it, soon or later. And yeah I want to get married before my age at 30. YES! Wish me luck to get the nice and great one! Yippy!

 

 

Couple days ago I asked my friend how does it feel when you are 27th, and she said “Oh 27th, ok.” She’s not afraid or worry no more.