DIY: Tote Bag Decoupage

Craft

Alright! We have to be productive guys! Do what you like and make it happen!

YESS!

 

Hahaha. Okay, now we are continuing to craft.

It’s been awhile since the end of last year I posted about how to make embroidered christmas necklace. Now we’re gonna talking about decoupage!

Recording to Wikipedia, Decoupage or Découpage is the art of decorating an object by gluing colored paper cutouts onto it in combination with special paint effects, gold leaf and other decorative elements. Commonly, an object like a small box or an item of furniture is covered by cutouts from magazines or from purpose-manufactured papers.

But we’ll try it something different here. We’ll gonna do it on a tote bag. Come!

sketch-1494506386524

Here is what you need guys. Pretty simple.

  • Tote bag
  • Pattern tissue
  • Scissors
  • Glue for fabric
  • Brush
  • Sponge
  • Water

 

2017-05-11_19.18.12

Arrange some decorative looks from pattern tissue that you have. Then, cut it into the shape that you want.

 

2017-05-11_19.19.58

Put some glue on the surface that you have planned to put the pieces of your tissues. Let it dry.

 

This slideshow requires JavaScript.

After dried, put your tissue on the glued surface. Take your sponge and make it a little bit wet at the tip of its (squeeze your sponge to get not to much water on the tip. Note: just a little bit of water). With your wet sponge, press your tissue softly. Let it dry.

 

2017-05-11_19.27.20

After the surface is dried, let’s make it protected by gluing the tissued surface. Let it dry then gluing it again to varnish them.

 

2017-05-11_19.46.43

And you’re done! Now you got the beautiful canvas tote bag for your daily activities! 😉

 

Hope this will be useful for you and see you in the next tutorial! Tchzüss!

 

 

 

P.s:

Dry it using the light of the sun is much better than it dry by itself.

Advertisements

Extraordinary Snack!

Adventures, All about Indonesia

YEAAAAAHHHHHH!!!

Tonight I just made a song. It’s called ‘The Lonely is Sock’. Hahaha!

 

Never mind. Let’s continue to the point of what I wanna tell you here. Come! 😀

 

So last Sat afternoon, me accompanied two beautiful lady to go to Tn.Abang to buy a new daily sandals. It’s near to the evening actually so we were been in hurry and hoping the seller hadn’t yet closed their counter.

And thank God we were still got the new good one for us!

Our journey was not just end right there, but we continued to buy a snack! But actually it wasn’t just a snack, but our dinner. Extraordinary dinner! 

DSC_1039

 

Yeah, extraordinary. Can you imagine? Nasi uduk sprinkled with fried onions and fried traditional chicken. You could eat those also with sambal kacang, fried shrimp as sate, pete and was accompanied by es jeruk. Uh! So delicious! Nikmat!

That was the first time I ate there and I’m really happy could taste those delightful food.

After the long walking, hunt for sandals, es jeruk is the perfect cure for your tiredness of the day! Hahaha.

Done fulfilled your stomach, it’s time for relaxation. Let what things that went in through your mouth go down, down and down.

DSC_1043While my body was processing that, I loved watching the street right beside my table. Our warung makan is located in narrow street that quiet tightly enough for two side of cars go by. The dim light of the vehicles and the wind blowed softly.. really peaceful. I like that.

 

Unfortunately, the time had come for us to go home. But it was ended also with cute traditional ending. Guess what? We boarded a bajaj to take us to the train station. How lovely!

But the blue is more softer than the orange ya.. for the tremble 😂

 

 

P.s.

Warung makan: Nasi Uduk Ayam Goreng Babe H. Saman, Kebun Kacang

DSC_1047

Hari Peringatan Tahun Baru Saka

Thoughts

 

Kalimat IG Post3

Backgorund photo from wego.co.id

Nyepi adalah sesuatu yang asing bagiku. Aku hanya sering dengar kata-kata itu lewat rentetan libur nasional negaraku. Namun tidak pernah aku paham apa itu Nyepi.

Beberapa hari lalu di layar timeline Line-ku, kulihat ada sebuah postingan yang di-like oleh temanku. Isinya mengenai Nyepi. Begini isinya..

 

Nyepi Esok Hari

Esok hari, waktu akan berjalan seperti biasa. Kami akan terjaga saat subuh karena gema adzan dari masjid kampung yang tak jauh dari rumah. Kami akan bangkit dari tempat tidur karena susulan adzan lain tak jauh di ujung lainnya. Adzan akan tetap sahut menyahut, sebagian merdu, sebagian lagi dengan lantunan yang datar berusaha mengumpulkan energi positif. Esok adalah hari biasa saja di sekitar rumah kami. Kehidupan akan berjalan normal.

Di rumah, kami bertiga akan berusaha menjadikan hari biasa itu istimewa dengan cara menyepi. Nyepi berarti tidak menyalakan api (amati geni), terutama api di dalam diri yang berupa ego dan kemarahan. Nyepi berarti menjinakkan semua itu. Maka lantunan suara adzan di pagi buta akan terdengar lirih laksana kidung-kidung suci yang mendamaikan. Nyepi berarti tidak bepergian (amati lelungan) maka imajinasipun akan sejenak kami selimuti agar dia tidak lelah berjalan ke tempat-tempat yang jauh. Hasrat dan imajinasi akan kami istirahatkan untuk merawat dirinya sendiri yang nampaknya lelah berkelana setahun lamanya.

Nyepi berarti tidak bekerja (amati karya) karena hanya saat tubuh diam maka kontemplasi berjalan dengan alami. Otot dan otak akan kami istirahatkan dan membiarkannya berbicara pada dirinya sendiri untuk mengenal kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Raga akan kami beri ruang untuk berdialog dengan ketiadaan gerak sehingga saling memahami dan terutama memaafkan kekhilafan yang pasti tak terhitung jumlahnya. Nyepi berarti tidak menikmati kesenangan (amati lelanguan) yang berlebihan maka akan kami arahkan hati untuk bisa tersenyum dan bergembira hanya dengan cara diam. Maka godaan untuk menikmati hiruk pikuk sosial media yang mengundang tawa akan kami biarkan untuk dinikmati oleh para sahabat lain yang tidak merayakan Nyepi. Senyum dan kepuasan akan kami hadirkan dalam diam di tengah ketiadaan drama dari luar jendela. Karena demikianlah Nyepi, menjauhkan diri dari kesenangan berlebihan demi paripurnanya kontemplasi saat berjalan ke dalam diri.

Di siang hari, ketika doa-doa kami panjatkan di dalam hati dan tanpa kepul asap dupa, adzan tentu akan kembali menemani. Khusu’ silasana di depan Padmasana mungkin akan dilatari deru pesawat terbang yang membelah angkasa Jogja, atau deru mobil dan motor yang memindahkan raga-raga yang bergegas berjingkat menunaikan amanat. Semua itu tak akan mengganggu kami, itu pasti. Jikapun ada, satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan yang kami biarkan terganggu. Seperti nasihat para bijak cendikia, suara dan kata-kata sesungguhnya tak melukai, kecuali jika kami mengizinkannya. Dan itu tak akan terjadi di hari Nyepi karena Nyepi adalah tentang perenungan diri, bukan tentang tuntutan kepada orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Selamat menikmati sepi dalam keramaian dunia. Jika pernah kita berharap akan nasihat yang menggerakkan kita menuju kebajikan, saatnya sepi berkhotbah tanpa kata-kata. Saatnya kebijaksanaan itu hadir dari bisikan lirih angin senja atau cengkerama daun-daun kamboja yang berkelar dengan tikaman matahari di sore hari. Selamat menyambut Nyepi.

I Made Andi Arsana
Warga Jogja, Pembina KMHD UGM

 

Isi postingan di atas adalah mengenai seorang keturunan Bali yang tinggal menjadi warga daerah Jogjakarta. Kalau di Bali, perayaan Nyepi benar-benar sunyi dan tidak ada aktivitas sama sekali selama 1 hari. Namun bagaimana bila orang Bali tinggal di tempat lain yang tidak merayakan perayaan Nyepi sekhidmat di Bali?

Tapi dari postingan di atas aku langsung mengerti apa makna dari Nyepi, makna dari berdiam diri Nyepi. Dulu ku kira hanya, ya.. sekedar tidak melakukan aktivitas apa pun seharian itu. Ternyata maknanya lebih dari itu dan mendalam. Nyepi di atas juga menunjukkan ku bagaimana suatu minoritas bertahan di suatu masyarakat, bagaimana berbeda namun tetap saling berdampingan.

 

Menurutku, terkadang saat seseorang fokus pada sesuatu, hal lainnya jadi tak terpikirkan. Aku sendiri pun mengakui bahwa aku pun begitu. Namun pentingnya orang lain dan lingkungan sekitar dalam kehidupan kita adalah sebagai pengingat akan hal penting yang sebenarnya juga penting dalam hidup kita, namun terlupakan. Begitu pun dengan perayaan Nyepi yang diadakan satu kali dalam setahun. Setiap tahun perayaan ini akan selalu hadir dan dirayakan oleh semua masyarakatnya. Perayaan ini membantu kita rehat sejenak dari hiruk pikuk duniawi dengan ketenangan, kedamaian, dan berserah diri pada Yang Kuasa.

 

And here’s my work for respect and cherish this celebration 🙂

Aging

Life, Thoughts

This year I’m going to 24th. It’s so fast and a lil bit spooky for me.. because I think my youth era will be over. I’m afraid being old. Wrinkled and everybody gonna call you ma’am or aunt. Are you guys feel the same with what I feel right now?

In other case, my generation and me now are the newbie in the world of work. For the first time we are so gambling whose company will accept our application. We try as many as we could apply to hundred of employers. Who’s lucky, will get the good job so quickly.

For me, it is not easy to find the right place for me. I ever worked in 4 companies who are running in different field. I did those in 9 months and feel hopeless at that time with this work zone cause I didn’t feel comfort. Each company that I’ve ever worked has different minus that made me moved out. But of course, there’s still positives that I could learn from them. Then, thank God finally I got the good one 🙂

When we work at a company, as an employee we will work individual and in a team. In my work now, I learn a lot of things from my team. I think it’s really great if you’re work in a team. We interact, learn to know each other, find the solution together, sharing, laugh together, try something new and funny together, we work together as a team, help each other, and of course.. a lot of foods, haha!

Yes, sometimes there must be come argument and resentful. But all of these good and bad make us learn more about ourselves and try to fix and be better man. This is what I feel about work zone and makes me not a stiff man no more.

Yeah. I ever be a stiff man who is too touchy and resentful, not a good man to make interesting conversations with somebody, boring, shy and sheepish, stutter…

That was really sad, really really sad. I felt sad to myself. But at that time I didn’t know what to do.

Those was me. But now I think I’m better 😀

And after I graduated from German Studies in 2015, I just realize I love craft. So I think I need to study again, learn about design.

I also not really much do traveling till this time. I want to travel all of places in the world, and I pray I could do this when I still have time.

And last but not least, MARRIAGE! God help.. 😦

When I was a teenager, I couldn’t wait to get married, get a lot of cute children, taking care of them, loving my partner.. Oh gosh. Now I’m single, yeaah.. haha. And I still wanna chase many things. And my savings is not enough and not ready yet for it. But I have to face it, soon or later. And yeah I want to get married before my age at 30. YES! Wish me luck to get the nice and great one! Yippy!

 

 

Couple days ago I asked my friend how does it feel when you are 27th, and she said “Oh 27th, ok.” She’s not afraid or worry no more.

 

 

 

Hi MEDAN!

Adventures, All about Indonesia, Uncategorized

Hai! Ini adalah cerita perjalananku mengunjungi Medan bulan lalu dari tanggal 9-16 Januari 2017.

 

Jadi aku sebelumnya sama sekali belum pernah ke medan. Ini adalah pengalaman kali pertamaku ke sana. Aku pergi ke sana karena kebetulan kantorku mengadakan acara di sana yang mengharuskan aku berada di sana juga. Karena aku suka jalan-jalan dan sangat suka sekali menjelajahi tempat baru dan tempat wisata di suatu kota, aku pun datang ke Medan dengan beberapa list tempat wisata yang sudah sebelumnya aku siapkan. Dengan bermodal ‘om Google‘ aku mencari lokasi-lokasi menarik yang wajib ku kunjungi saat ku berada di sana. Untungnya aku memiliki satu hari full time di mana aku bisa berjalan-jalan di tengah-tengah pekerjaan ku di sana.

Sesampaiku di Medan aku sangat excited dan bersemangat karena akhirnya sampai di Medan, dunia baru yang aku datangi selain Bandung dan Makassar, haha. Awal perjalanan dari bandara menuju pusat kota Medan nampak perkebunan kelapa sawit di sisi dan kanan jalan. Saat perjalanan itu pun di dalam mobil sang supir memutarkan lagu Melayu kesukaan orang Medan. Jadi terasa sekali aku benar-benar sedang di tempat lain selain Jakarta, tempatku beraktivitas sehari-hari.

 

Eksistensi Becak Metropolis di Medan

Sumber: http://bit.ly/2kmaN6I

Dan aku kaget ketika melihat ada ‘becak’ di Medan. Sebutan ‘becak’ di Medan sama saja dengan ‘bentor’ yang ada di Makassar. Kalau ‘becak’ di Jakarta adalah benar-benar becak, yaitu kendaraan yang didorong oleh sepeda dengan penumpang terletak di depan sepeda. Kalau bentor di Makassar adalah Becak Motor, yaitu becak yang didorong dengan motor, bukan sepeda. Namun becak-Medan dengan bentor walaupun sama-sama didorong oleh sebuah motor, ada sedikit perbedaan pada tampilan mereka. Kalau becak-Medan, motor berada di sisi samping dari badan becak sedangkan bentor berada di belakang sisi badan becak. Aku melihat itu unik. Berarti hampir masing-masing kota di Indonesia memiliki becak, becak ala mrk masing-masing. Belum hampir tepatnya si. Aku harus mengecek keberadaan becak di kota lainnya. 😀

 

dsc_0365

Saat aku sampai di pusat kota. Aku dan tim mampir untuk makan di Tip Top. Saat perjalanan menuju ke sana, sekitaran Tip Top aku lihat gaya bangunannya seperti di daerah Kota di Jakarta yang dulunya kebanyakan penduduk keturunan Tiongkok tinggal di sana. Dan saat aku memasuki restoran Tip Top, aku sangat jatuh cinta dengan arsitektur ‘jadul’ interior dari restoran tersebut. Buru-buru aku memotret dan merekam hal-hal unik yang berada di sana. Aku suka hal-hal yang berbau jadul dan vintage :3

Makanannya di Tip Top juga sangat enak menurutku. Nasi gorengnya rasanya pas, tdk terlalu asin. Es krimnya pun juga sangat ringan ketika terasa di mulut, jadi tidak gampang kenyang! Haha!

Setelah itu, esok harinya adalah hari di mana perjalanan wisataku dimulai. Dari list wisataku ada Istana Maimun, Tjong A Fie Mansion,  dan Masjid Raya Medan yang dlm waktu satu hari cukup untuk dijelajahi. Dengan mengandalkan ‘om Google‘ kembali, lebih tepatnya maps, aku memetakan lokasi mana yang aku kunjungi duluan berdasarkan jarak terdekat dari tempatku menginap. Kemudian yang menjadi tujuan pertamaku adalah Istana Maimun. Untungnya di Medan sudah ada ojek-online, yaitu Gojek yg bisa menjadi kendaraanku berwisata di Medan. Kalau saja tidak ada ojek online itu, mungkin aku akan mengandalkan kendaraan umum seperti angkot daripada taksi yang pastinya akan sangat memakan biaya. Kendaraan seperti angkot pun juga akan sangat ribet juga digunakan oleh seorang wisatawan dalam negeri yang baru pertama kali ke Medan dan sama sekali tidak tahu rute angkot di kota Medan. Untungnya pun kota Medan kecil, jadi menggunakan Gojek pun sangat murah, sangat menghemat kantong! Lagi pula, saat mengunjungi kota yang sama sekali belum pernah aku datangi, aku lebih memilih untuk menaiki motor untuk berkeliling. Lebih dekat jaraknya untuk melihat lebih dekat sekitar, lebih bisa mengeksplor lebih jauh dibanding di dalam mobil yg dihalangi oleh atap besi dan kaca jendela.

Saat aku sampai di Istana Maimun, excited sekali rasanya untuk segera mengeksplor isi dari istana tersebut. Bentuknya dari luar mirip masjid pada umumnya. Dengan kamera hpku yang juga ku hidupkan untuk merekam perjalananku di sana ke dalam bentuk video, aku pun mulai memasuki istana tersebut. Sebelum memasuki istana, seluruh pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki mereka. Hal tersebut tidak biasa dilakukan oleh tempat wisata lainnya. Mungkin karena istana ini awal hingga rajanya yang sekarang pemiliknya adalah pemeluk Islam yang kebiasaannya jika memasuki masjid atau rumah, melepas alas kaki. Tapi aku belum tau pasti.

 

dsc_0389

Ketika saat menaiki tangga masuk, aku disambut dengan alunan musik Melayu live yang merdu dan riang. Kaget sekaligus “wah, di sebuah istana yang menjadi museum ini ada live musik khas kerjaannya.” Sangat menarik dan belum pernah aku temui di museum lainnya. Orang-orang yang mendendangkan alunan lagu-lagu Melayu tersebut juga menggunakan baju adat khas Melayu. Alat-alat musik yang dimainkan pun juga alat musik tradisional yg memang khas Melayu. Benar-benar terasa sekali kebudayaannya. Di depan live musik tersebut juga tersedia tempat duduk agar pengunjung dapat menikmati irama lagu khas Melayu yang dimainkan dengan lebih rileks dan nyaman.

Setelah merasa cukup menikmati musik yang didendangkan, aku tertarik untuk masuk ke dalam istana tersebut. Apalagi ditambah banyak org yang berlalu lalang dengan mengenakan baju adat khas Melayu. Aku pikir “hari ini orang-orang penting istana lagi pada datang ya ke sini. Atau mereka adalah orang-orang istana?” Akhirnya aku pun masuk ke dalam dan melihat kemegahan interior suatu istana, dari atapnya yang penuh dilukisi dengan gambaran bunga di dalam segi enam dengan corak-corak menarik. Terdapat juga beberapa figura besar yang menunjukan potret dari orang-orang yang pernah berpengaruh dalam kerajaan tersebut. Dan akhirnya aku mengetahui darimana sumber baju-baju daerah yang dipakai hampir semua pengunjung di sana, yaitu adalah tempat penjual souvenir yang juga menyewakan baju daerah yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto, haha! Aku pun juga ikut mencoba menyewa baju daerah tersebut setelah aku berkeliling museum. Dan mencetak foto juga di sana! Menyewa baju daerah yang paling murah harganya 10k dan mencetak fotonya per lembar juga 10k. Senangnya harganya terjangkau, hihi.

Setelah puas melihat-lihat dan sedikit berfoto di sana, aku kemudian pergi mengunjungi Tjong A Fie Mansion. Biaya untuk masuk ke sana termasuk lumayan mahal sebesar 35k. Tapi hal itu sepadan dengan pengalaman yang ku dapatkan selama ku berkeliling di dalam sana. Setiap pengunjung/kelompok akan disiapkan tour guide yang akan membimbing pengunjung untuk dapat lebih mengenal tokoh di balik Tjong A Fie Mansion, yaitu ialah Tjong A Fie, seorang saudagar Tiongkok yang hijrah ke negeri Indonesia, tepatnya ke Medan. Keberadaannya di Medan berpengaruh besar dalam kemajuan kota tersebut yang akhirnya ia pun dikenal sebagai tokoh berjasa di sana. Dan mansion ini adalah tempat tinggalnya dahulu yg dijadikan museum untuk mengenang dirinya dan sejarahnya. Cucu dan cicitnya yang mengurus rumah tersebut kini.

 

This slideshow requires JavaScript.

Rumah tersebut benar-benar megah. Ada empat gaya perpaduan yang membangun bangunan tersebut, mulai dari gaya Eropa, Cina, Amerika, dan Indonesia. Perpaduan tersebut membuat rumah tersebut sangat cantik. Aku sangat senang sekali dengan halaman tengah rumah tersebut yg terbuka, sejuk.. sekali rasanya. Kalau kamu berkunjung ke Medan wajib ke sana bagi para pecinta sejarah dan arsitektur! 😉

 

dsc_0041

Setelah puas menyerap berbagai ilmu dan cerita, akhirnya aku pergi ke lokasi terakhir, yaitu Masjid Raya Medan. Di sana ternyata diwajibkan setiap wanitanya utk memakai hijab jika hendak masuk ke masjid tersebut. Jadi saat aku masuk melalui gerbang masjid, seorang wanita memberhentikan langkahku dan memberikanku selendang untuk aku kenakan sebagai hijab. Di sanaku sempatkan untuk salat dan beristirahat sejenak. Bersyukur dengan pengalaman menakjubkan yang kudapati hari itu.

Setelah selesai, akhirnya tujuan paling akhirku adalah ke tempat acara yang akan kantorku selenggarakan di Centre Poin untuk bertemu dengan beberapa orang.

Kantorku adalah sebuah kantor event organizer yang tiap tahun menyelenggarakan 5-7 bazaar setiap tahunnya ke kota-kota besar di Indonesia yang memiliki potensi untuk diadakan bazaar dengan tema tertentu yang menarik seperti di Jakarta. Dan pada setiap kami mengunjungi sebuah kota, kami merekrut beberapa kru untuk membantu acara kami terselenggara dengan baik. Begitu juga saat kami di Medan. Aku bertemu banyaak sekali teman baru. Berbagi pengalaman dan ilmu, bercanda tawa bersama. Namun aku awalnya agak minder dan asing dengan beberapa orang keturunan Tiongkok yang berbicara dengan bahasa Hokian (Hokkien), bahasa ‘Tiongkok’ – nya Medan, haha. Begitu juga dengan beberapa antar kru yang berbicara dengan bahasa tersebut. Aku bingung, hahaha.

Tapi secara keseluruhan Medan sangat menyenangkan. Berkunjung ke tempat wisata yang menarik kaya akan sejarah dan peninggalan terdahulunya dan juga bertemu dengan orang-orang baru yang akhirnya menjadi kawan. Sungguh pengalaman yg asyik!

Sampai bertemu lagi Medan! Tchüss! 🙂

My Old Cover Video

Music

Click this sentence to see me singing a song that I’m talking about! 😉

 

HEY!

So today I just renewed my YouTube channel, haha! Now it’s more organized but still need many good and useful videos that I MUST added.

When I tidied up my channel I found this, my old one video cover sang ‘Simpan Saja’ by Ecoutez.

And apparently this is the best video cover in my life that I was success to make it good enough video with clear voices. I feel confidence and not shy when I watch and hear this video by myself. Like.. “Yeah! That’s it!”

To be compered to my another cover videos, this is the not really many out of tune! 😆

Because this video is only one of my best cover videos, I want to share with you guys my happiness of my successful video cover! Yay! Hope you like it!

And from now on, I also want to record my singing videos monthly and put it on my channel. It is because I want to consistently practice and make targets for myself to increase my singing skill. And of course because singing is my lovely most hobby of my life. 💕

Lately I also begin to write songs again. And I really want to publish all! Can’t wait!

But I have to arrange the music. I’m planning to play the music by myself with guitar. But I have to practice first to play it. End of last year I started to learn playing guitar. Till now I have to practice more often, especially memorizing chords and making the good strummed (so, you know how bad still I am? Hahaha.)

Please, sit back and relax for now. We will coming for you soon to bring more happy and crazy videos!

 

Bye! Tchüss! :*

 

Pose!

Adventures

YEAH! Hahaha!

 

I ever wanted to be a model. That is a dream that I’ve been dreaming from I was in primary school till now. I think a lot of girls around my age that time dreamed the same dream but afraid to shout it out cause later everybody would mock it. Or it just me who thought like that? Haha I don’t know. Maybe you could help me to answer that. 😉

But this is not my primary dream. I mean this is not what kind of job that will be my main job for life. I just want to feel and taste it, what does it feels. Then I found out this is really fun! What kind of time that you could be the center of view and looking good? Very good and maybe looks very gorgeous, girls! Hmm…

Let’s we see my poses, shall we?

 

img20161231114809

📷myself

 

Yeah! That’s it!

So what do you think? Am I good enough to be a model? 😝

Please share what you think.. I am begging you! Haha!

 

Bis bald! Tchüss!

 

 

 

 

Naik Pesawat

Adventures

dsc_0360

Naik pesawat itu menyenangkan, karena kita bisa terbang kemana pun tujuannya yang jaraknya jauh sekali pun.

Dengan bentuknya yang kokoh dan tangguh, mereka siap menerbangkanmu ke angkasa luas.

Jangan kaget dengan sensasi saat mereka membawamu naik ke angkasa dan bermanuver ke kiri dan ke kanan. Seperti saat sedang main roller coaster! Jantung dibuat deg-degan.

Saat sedang tenang melaju, jangan lupa untuk menengok ke langit dari jendela pesawat. Hamparan keindahan langit biru terpampang luas di sana. Putihnya awan yang bergumul membentuk koloni atau pun terpisah satu per satu. Cantiknya!

Kamu pun juga bisa memandang daratan dari sana. Gedung tinggi dan pulau-pulau semakin tampak mengecil ketika kamu semakin tinggi dibawa olehnya. Sungguh luar biasa penampakannya.

Aku kadang masih dan akan selalu takjub dan girang saat melihat keindahan angkasa dan demografi alam dari jendela kaca pesawat.

Terima kasih pengalamannya, Pesawat. Aku jadi bisa memandang alam lebih luas 🙂

Makassar I’m in Love

Adventures, All about Indonesia

Makassar is a hot and beautiful city located in South Sulawesi, Indonesia and was be my first city that I visited for the first time with my own effort through my job.

What? YES! I’m very excited about that and feel so proud of myself 😍

I love traveling and visit the place that I never went before. Especially Indonesia. I have the big dream that I want  to go to around every city in Indonesia and thank God I made it. I made my first move to go to Makassar.

salamaki-ka-battuanta1

When we are going to somewhere new, it’s always interesting to know more about the historical of the place that we’re going to. So when I was in Makassar I went to Pantai Losari and Benteng Ujung Pandang.

When you are in Pantai Losari, you could see many of big sign letters along the seashore. And there’s a lot of monuments there.

img_20160927_100752

Actually the seashore was transformed to be concrete floor. Till now I didn’t found any trusted historical information related to this transform. I felt a little bit sad when I figured it out that I couldn’t play with sand and little waves there 😦

The next one is Fort Rotterdam or you could called it Benteng Ujung Pandang.

It was Sultanate of Gowa who built this fort a long time ago. But when Netherlands came, they took control of this building, so the name of this fort became Fort Rotterdam.

dsc_0011

In this place, you could also go around to Museum La Galigo. This museum could tell you about the origin of Bugis tribe in Sulawesi. The numismatic and archaeological collections from this museum would tell you their stories too about Sulawesi Island.

And when you go travel to Makassar, don’t forget to try their wealth of various delicious tasty food. Yeah.. You have to try many famous food there like, pisang ijo, pisang epe, Bakmie Ujung Pandang, Sop Sodara, and anything else that I couldn’t tell you here cause there is so many! Haha! Those just the food that I ever tasted when I came to there. But so much more to try in the next trip. It’s a MUST! 😄

“Kota yang banyak orang bilang penduduknya keras dalam berkata dan perbuatan ini ternyata ramah dan baik hati terhadap saya yang terbilang orang Jakarta ini.

Dengan mencoba bergaul dan berbaur melalui logat mereka, kami bisa tertawa dan bercanda bersama.

Lingkungannya pun indah, meski di beberapa lokasi masih ada yang perlu diperbaiki agar lebih baik lagi dan ramah terhadap lingkungan.

Makanan-makanan yang tersedia di sini sangat menggoda lidah sehingga jadi ingin berlama-lama tinggal di sini untuk mencicipi kelezatannya..”

So, see you again Makassar!

p.s:

here’s the link of my video for you to look at during my trip in Makassar.

Go check it! (Makassar I’m in Love)